Mengamati saham Garuda
Senin, 23 Juli 2012 - 09:02 WIB
Mengamati saham Garuda
A
A
A
Sindonews.com - Pekan lalu terdapat perkembangan menarik yang terjadi pada harga saham perusahaan penerbangan pelat merah Garuda Indonesia. Untuk pertama kalinya setelah penawaran umum saham perdana (initial public offering/ IPO) pada Februari 2011,harga saham Garuda melampaui harga perdananya yang sebesar Rp750.
Selasa lalu 17 Juli, pada saat ada berita Garuda Indonesia telah dipilih oleh Skytrax, lembaga pemeringkat perusahaan penerbangan dunia yang bermarkas di Inggris, harga saham Garuda melejit menjadi Rp780.Harga itu kemudian sedikit menurun karena aktivitas ambil keuntungan (profit taking) yang dilakukan investor. Pada Kamis 19 Juli,saya memperoleh SMS dari seorang teman, salah satu pejabat Garuda, yang mengatakan bahwa prediksi saya harga saham Garuda akan melampaui harga IPO-nya padaakhirtahunternyatajustru terjadi jauh lebih awal.
Saya menyampaikan prediksi itu secara informal kepada teman saya tersebut pada saat saya diundang oleh Garuda untuk ikut memberikan pendapat dalam hal pemilihan warna kursi pesawat Boeing 777-200 yang akan diterima Garuda pada Mei 2013. Keyakinan saya tentang hal tersebut sungguh besar.Saya tidakmalu-malumenuliskannya di harian ini maupun Jakarta Post beberapa waktu lalu. Apa yang mendasari keyakinan saya bahwa harga saham Garuda akan meningkat?
Saya mengikuti perkembangan perusahaan penerbangan tersebut sejak saya “jatuh cinta” dengan Garuda dalam penerbangan dari Melbourne ke Denpasar pada 2008 lalu. Pada waktu itu saya begitu kagum dengan Garuda yang mampu mencapai load factor hampir 100 persen dalam penerbangan tersebut, termasuk di kelas bisnis, dengan sebagian terbesar penumpangnya adalah warga Australia. Saya menuliskan pengalaman tersebut dalam sebuah tulisan yang berjudul “Menjadi Minoritas dalam Penerbangan Garuda”.
Selain menjadi minoritas,saya mulai mengagumi kualitas pelayanan Garuda yang sangat baik. Penerbangan sekitar 6 jam tersebut juga diisi dengan pelayanan makanan dan minuman yang tak henti-hentiya ditawarkan kepada penumpang, kemudian diakhiri dengan es krim saat mendekati Denpasar. Pada saat itu saya berpendapat pelayanan Garuda luar biasa.Ternyata standar pelayanan ini mulai konsisten dilakukan Garuda sebagaimana saya tuangkan dalam tulisan saya berikutnya “Sydney–Denpasar”.
Dari pengalaman tersebut, yang ternyata dilakukan secara konsisten oleh Garuda dari waktu ke waktu, tidaklah mengherankan jika dua lembaga pengamat penerbangan Australia, yaitu CAPA dan Roy Morgan, menobatkan Garuda menjadi perusahaan penerbangan terbaik di dunia. CAPA, yaitu Center for Asia Pacific Aviation, bahkan melaporkan hasil survei mereka kepada para penumpang pesawat berbagai penerbangan di dunia,memberikan skor tertinggi 8,68 kepada Garuda, jauh di atas Singapore Airlines yang menempati peringkat kedua dengan skor 7,98.
CAPA memberikan penghargaan tersebut di tahun 2010,sementara Roy Morgan menobatkan Garuda sebagai perusahaan penerbangan terbaik pada April 2012 yang lalu. Seakan ingin menguatkan pendapat itu semua, pekan lalu Garuda dinobatkan menjadi perusahaan penerbangan regional terbaik di Asia, bahkan juga sebagai perusahaan penerbangan regional terbaik di dunia oleh lembaga yang sungguh sangat prestisius,yaitu Skytrax,dalam pameran dirgantara terbaru di Farnborough, Inggris.
Skytrax inilah yang merupakan lembaga yang menghasilkan peringkat perusahaan penerbangan di mana Garuda menjadi salah satu penerbangan berbintang 4. Skytrax dua tahun lalu juga menobatkan Garuda sebagai The Most Improved Airlines. Dengan latar belakang seperti itu,saya berada dalam posisi yang berbeda pada saat harga perdana saham Garuda ditetapkan tahun lalu. Pada saat itu range harga saham Garuda ditetapkan dan akhirnya harga perdana diputuskan sebesar Rp750.
Dalam pembicaraan saya dengan pejabat Garuda teman saya tersebut, saya secara pribadi menyatakan, di mata saya harga saham Garuda adalah Rp1.000. Ternyata bahkan pada harga Rp750 itu pun dirasakan terlalu tinggi. Ini mulai dirasakan pada saat dilakukan book building oleh para underwriter, baik lokal maupun asing.Tapi IPO tetap jalan terus sehingga akhirnya underwriter lokal kita, yaitu Danareksa, Bahana, dan Mandiri Sekuritas, harus membeli saham yang tidak laku dan harus menanggung potensi kerugian cukup besar.
Ternyata belum banyak anggota masyarakat yang “jatuh cinta” kepada Garuda seperti saya sehingga mereka belum bisa menghargai Garuda pada nilai sebenarnya. Perkembangan harga saham yang terakhir juga dipengaruhi prospek kinerja Garuda kuartal kedua yang tentunya akan dikeluarkan pada Juli ini. Jika pada saat harga avtur cukup tinggi pada kuartal pertama lalu Garuda masih bisa membukukan laba komprehensif sebesar Rp44 miliar–– untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka bahwa pada kuartal pertama mengalami keuntungan (biasanya selalu merugi)––, maka prospek di kuartal kedua rasanya akan lebih baik.
Ada dua hal menarik dalam perjalanan di kuartal kedua tersebut.Yang pertama, tingkat isian penumpang yang sangat tinggi selama kuartal kedua. Penerbangan Garuda yang sering saya tumpangi dalam beberapa bulan terakhir hampir selalu penuh ke mana pun jurusannya. Bahkan dalam sebulan terakhir ini saya dua kali melakukan penerbangan ke Banjarmasin, ternyata seluruh pesawat penuh, baik kelas bisnis maupun ekonomi. Pada April lalu saya melakukan penerbangan ke Amsterdam dan ternyata pesawat Airbus 330-200 yang berisi 32 kursi kelas bisnis seluruhnya penuh, demikian juga kelas ekonominya.
Yang kedua, rata-rata harga avtur mengalami penurunan lebih dari 10 persen.Padahal bahan bakar pesawat merupakan komponen biaya yang sangat besar, sekitar 38 persen dari biaya yang harus ditanggung oleh Garuda. Ini berarti penurunan harga bahan bakar akan memompa laba perusahaan penerbangan tersebut lebih lanjut. Bulan Juli sudah hampir berakhir.Dalam beberapa hari ke depan kita akan melihat laporan keuangan dari perusahaan penerbangan itu.
Menarik juga untuk melihat apakah yang saya bayangkan tersebut menjadi kenyataan atau tidak.Saya sendiri dalam menjawab SMS teman saya itu menyatakan bahwa akhir tahun ini bukan tidak mungkin harga sahamnya akan meningkat lebih tinggi lagi.
CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
Selasa lalu 17 Juli, pada saat ada berita Garuda Indonesia telah dipilih oleh Skytrax, lembaga pemeringkat perusahaan penerbangan dunia yang bermarkas di Inggris, harga saham Garuda melejit menjadi Rp780.Harga itu kemudian sedikit menurun karena aktivitas ambil keuntungan (profit taking) yang dilakukan investor. Pada Kamis 19 Juli,saya memperoleh SMS dari seorang teman, salah satu pejabat Garuda, yang mengatakan bahwa prediksi saya harga saham Garuda akan melampaui harga IPO-nya padaakhirtahunternyatajustru terjadi jauh lebih awal.
Saya menyampaikan prediksi itu secara informal kepada teman saya tersebut pada saat saya diundang oleh Garuda untuk ikut memberikan pendapat dalam hal pemilihan warna kursi pesawat Boeing 777-200 yang akan diterima Garuda pada Mei 2013. Keyakinan saya tentang hal tersebut sungguh besar.Saya tidakmalu-malumenuliskannya di harian ini maupun Jakarta Post beberapa waktu lalu. Apa yang mendasari keyakinan saya bahwa harga saham Garuda akan meningkat?
Saya mengikuti perkembangan perusahaan penerbangan tersebut sejak saya “jatuh cinta” dengan Garuda dalam penerbangan dari Melbourne ke Denpasar pada 2008 lalu. Pada waktu itu saya begitu kagum dengan Garuda yang mampu mencapai load factor hampir 100 persen dalam penerbangan tersebut, termasuk di kelas bisnis, dengan sebagian terbesar penumpangnya adalah warga Australia. Saya menuliskan pengalaman tersebut dalam sebuah tulisan yang berjudul “Menjadi Minoritas dalam Penerbangan Garuda”.
Selain menjadi minoritas,saya mulai mengagumi kualitas pelayanan Garuda yang sangat baik. Penerbangan sekitar 6 jam tersebut juga diisi dengan pelayanan makanan dan minuman yang tak henti-hentiya ditawarkan kepada penumpang, kemudian diakhiri dengan es krim saat mendekati Denpasar. Pada saat itu saya berpendapat pelayanan Garuda luar biasa.Ternyata standar pelayanan ini mulai konsisten dilakukan Garuda sebagaimana saya tuangkan dalam tulisan saya berikutnya “Sydney–Denpasar”.
Dari pengalaman tersebut, yang ternyata dilakukan secara konsisten oleh Garuda dari waktu ke waktu, tidaklah mengherankan jika dua lembaga pengamat penerbangan Australia, yaitu CAPA dan Roy Morgan, menobatkan Garuda menjadi perusahaan penerbangan terbaik di dunia. CAPA, yaitu Center for Asia Pacific Aviation, bahkan melaporkan hasil survei mereka kepada para penumpang pesawat berbagai penerbangan di dunia,memberikan skor tertinggi 8,68 kepada Garuda, jauh di atas Singapore Airlines yang menempati peringkat kedua dengan skor 7,98.
CAPA memberikan penghargaan tersebut di tahun 2010,sementara Roy Morgan menobatkan Garuda sebagai perusahaan penerbangan terbaik pada April 2012 yang lalu. Seakan ingin menguatkan pendapat itu semua, pekan lalu Garuda dinobatkan menjadi perusahaan penerbangan regional terbaik di Asia, bahkan juga sebagai perusahaan penerbangan regional terbaik di dunia oleh lembaga yang sungguh sangat prestisius,yaitu Skytrax,dalam pameran dirgantara terbaru di Farnborough, Inggris.
Skytrax inilah yang merupakan lembaga yang menghasilkan peringkat perusahaan penerbangan di mana Garuda menjadi salah satu penerbangan berbintang 4. Skytrax dua tahun lalu juga menobatkan Garuda sebagai The Most Improved Airlines. Dengan latar belakang seperti itu,saya berada dalam posisi yang berbeda pada saat harga perdana saham Garuda ditetapkan tahun lalu. Pada saat itu range harga saham Garuda ditetapkan dan akhirnya harga perdana diputuskan sebesar Rp750.
Dalam pembicaraan saya dengan pejabat Garuda teman saya tersebut, saya secara pribadi menyatakan, di mata saya harga saham Garuda adalah Rp1.000. Ternyata bahkan pada harga Rp750 itu pun dirasakan terlalu tinggi. Ini mulai dirasakan pada saat dilakukan book building oleh para underwriter, baik lokal maupun asing.Tapi IPO tetap jalan terus sehingga akhirnya underwriter lokal kita, yaitu Danareksa, Bahana, dan Mandiri Sekuritas, harus membeli saham yang tidak laku dan harus menanggung potensi kerugian cukup besar.
Ternyata belum banyak anggota masyarakat yang “jatuh cinta” kepada Garuda seperti saya sehingga mereka belum bisa menghargai Garuda pada nilai sebenarnya. Perkembangan harga saham yang terakhir juga dipengaruhi prospek kinerja Garuda kuartal kedua yang tentunya akan dikeluarkan pada Juli ini. Jika pada saat harga avtur cukup tinggi pada kuartal pertama lalu Garuda masih bisa membukukan laba komprehensif sebesar Rp44 miliar–– untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka bahwa pada kuartal pertama mengalami keuntungan (biasanya selalu merugi)––, maka prospek di kuartal kedua rasanya akan lebih baik.
Ada dua hal menarik dalam perjalanan di kuartal kedua tersebut.Yang pertama, tingkat isian penumpang yang sangat tinggi selama kuartal kedua. Penerbangan Garuda yang sering saya tumpangi dalam beberapa bulan terakhir hampir selalu penuh ke mana pun jurusannya. Bahkan dalam sebulan terakhir ini saya dua kali melakukan penerbangan ke Banjarmasin, ternyata seluruh pesawat penuh, baik kelas bisnis maupun ekonomi. Pada April lalu saya melakukan penerbangan ke Amsterdam dan ternyata pesawat Airbus 330-200 yang berisi 32 kursi kelas bisnis seluruhnya penuh, demikian juga kelas ekonominya.
Yang kedua, rata-rata harga avtur mengalami penurunan lebih dari 10 persen.Padahal bahan bakar pesawat merupakan komponen biaya yang sangat besar, sekitar 38 persen dari biaya yang harus ditanggung oleh Garuda. Ini berarti penurunan harga bahan bakar akan memompa laba perusahaan penerbangan tersebut lebih lanjut. Bulan Juli sudah hampir berakhir.Dalam beberapa hari ke depan kita akan melihat laporan keuangan dari perusahaan penerbangan itu.
Menarik juga untuk melihat apakah yang saya bayangkan tersebut menjadi kenyataan atau tidak.Saya sendiri dalam menjawab SMS teman saya itu menyatakan bahwa akhir tahun ini bukan tidak mungkin harga sahamnya akan meningkat lebih tinggi lagi.
CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
(and)
Lihat Juga :