BTEL dapat pinjaman dari Credit Suisse USD50 juta
Selasa, 24 Juli 2012 - 17:05 WIB
BTEL dapat pinjaman dari Credit Suisse USD50 juta
A
A
A
Sindonews.com - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) meraih pinjaman sindikasi senilai USD50 juta yang difasilitasi oleh Credit Suisse Singapore. Pinjaman tersebut bertenor 18 bulan dengan bunga 11,5 persen. Kucuran pinjaman bank tersebut didapatkan lebih cepat dari yang direncanakan.
Penandatanganan pinjaman tersebut diharapkan dapat mendukung proses penerbitan saham tanpa disertai hak pemesanan efek terlebih dahulu (non-preemtive right issue / NPR).
Sesuai mandat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa beberapa waktu lalu, BTEL akan menambah penerbitan saham (right issue) sebesar Rp754 miliar atau 10 persen dari saham yang ada. Penerbitan saham tersebut dilakukan tanpa disertai hak pemesanan efek terlebih dahulu (non-preemtive right issue / NPR). Target non-premptive right (NPR) bisa selesai akhir Agustus 2012.
“Kami bersyukur bahwa BTEL masih tetap mendapat kepercayaan yang tinggi dari institusi keuangan asing. Hal ini tentunya akan semakin mempercepat program revitalisasi yang sedang dilakukan perusahaan,” kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie, di Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/7/2012).
Menurut Wakil Direktur Utama merangkap Direktur Keuangan BTEL Jastiro Abi, pinjaman bank sebesar USD50 juta tersebut akan dikombinasikan dengan pendanaan hasil right issue (NPR) untuk melunasi obligasi rupiah pada tanggal 4 September mendatang.
"Hasil awal dari proses NPR saat ini, BTEL sudah menerima pembayaran sebesar Rp 150 miliar dari Bakrie Global Ventura. Dikombinasikan dengan kas internal perusahaan dan pinjaman bank yang baru didapat kami telah mendapatkan pendanaan lebih cepat untuk melunasi kewajiban obligasi," kata Anindya.
Sebagaimana diketahui, pemulihan BTEL terdiri dari lima tahap. Pertama, adalah program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan.
Kedua, penguatan organisasi, budaya dan governance. Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL, yakni back to basic (one brand, one price) tapi banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.
Perolehan dana dari perbankan dan right issue, merupakan realisasi dari tahap pertama. Adapun tahap kedua, yakni penguatan organisasi, BTEL menambah direksi dan komisaris baru pada Juni lalu.Anindya mengatakan,manajemen BTEL juga terus berkomitmen merealisasi program pemulihan tahap tiga dan empat, yakni one brand one price tapi banyak opsi produk dan mendorong pertumbuhan revenue dari data.
"Kami senang program pemulihan kinerja perusahaan di semua lini bisa sesuai bahkan lebih cepat dari target. Mudah-mudahan ini bisa mengklarifikasi rumor yang beredar di pasar akhir-akhir ini mengenai terhambatnya proses NPR yang sudah diumumkan. Saya yakin tahun ini kami sudah bisa mengembalikan perusahaan pada jalur yang tepat sebagai penyedia telekomunikasi selular CDMA terkemuka di Indonesia, " kata Anindya.
Penandatanganan pinjaman tersebut diharapkan dapat mendukung proses penerbitan saham tanpa disertai hak pemesanan efek terlebih dahulu (non-preemtive right issue / NPR).
Sesuai mandat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa beberapa waktu lalu, BTEL akan menambah penerbitan saham (right issue) sebesar Rp754 miliar atau 10 persen dari saham yang ada. Penerbitan saham tersebut dilakukan tanpa disertai hak pemesanan efek terlebih dahulu (non-preemtive right issue / NPR). Target non-premptive right (NPR) bisa selesai akhir Agustus 2012.
“Kami bersyukur bahwa BTEL masih tetap mendapat kepercayaan yang tinggi dari institusi keuangan asing. Hal ini tentunya akan semakin mempercepat program revitalisasi yang sedang dilakukan perusahaan,” kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie, di Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/7/2012).
Menurut Wakil Direktur Utama merangkap Direktur Keuangan BTEL Jastiro Abi, pinjaman bank sebesar USD50 juta tersebut akan dikombinasikan dengan pendanaan hasil right issue (NPR) untuk melunasi obligasi rupiah pada tanggal 4 September mendatang.
"Hasil awal dari proses NPR saat ini, BTEL sudah menerima pembayaran sebesar Rp 150 miliar dari Bakrie Global Ventura. Dikombinasikan dengan kas internal perusahaan dan pinjaman bank yang baru didapat kami telah mendapatkan pendanaan lebih cepat untuk melunasi kewajiban obligasi," kata Anindya.
Sebagaimana diketahui, pemulihan BTEL terdiri dari lima tahap. Pertama, adalah program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan.
Kedua, penguatan organisasi, budaya dan governance. Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL, yakni back to basic (one brand, one price) tapi banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.
Perolehan dana dari perbankan dan right issue, merupakan realisasi dari tahap pertama. Adapun tahap kedua, yakni penguatan organisasi, BTEL menambah direksi dan komisaris baru pada Juni lalu.Anindya mengatakan,manajemen BTEL juga terus berkomitmen merealisasi program pemulihan tahap tiga dan empat, yakni one brand one price tapi banyak opsi produk dan mendorong pertumbuhan revenue dari data.
"Kami senang program pemulihan kinerja perusahaan di semua lini bisa sesuai bahkan lebih cepat dari target. Mudah-mudahan ini bisa mengklarifikasi rumor yang beredar di pasar akhir-akhir ini mengenai terhambatnya proses NPR yang sudah diumumkan. Saya yakin tahun ini kami sudah bisa mengembalikan perusahaan pada jalur yang tepat sebagai penyedia telekomunikasi selular CDMA terkemuka di Indonesia, " kata Anindya.
(and)
Lihat Juga :