Tertekan harga baja, laba KRAS merosot 92,25%
Rabu, 01 Agustus 2012 - 09:22 WIB
Tertekan harga baja, laba KRAS merosot 92,25%
A
A
A
Sindonews.com – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) hingga semester I/2012 membukukan penurunan laba bersih tahun berjalan signifikan mencapai 92,25 persen menjadi Rp105,84 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,37 triliun.
Direktur Utama KRAS Irvan Kamal Hakim mengatakan, turunnya laba bersih perseroan akibat tertekannya harga baja dunia akibat krisis yang melanda dunia.“Industri baja merupakan sektor komoditas, sehingga sangat tergantung dengan kondisi Internasional,” kata dia di Jakarta kemarin.
Selain krisis yang melanda Eropa,kondisi ekonomi di China yang lebih rendah dibanding tahun lalu juga akan memberi dampak pada harga baja dunia. Dia menambahkan, meski volume baja perseroan tetap tinggi,harga bahan baku yang masih tinggi tidak diimbangi dengan harga baja yang lebih rendah. Hal ini menyebabkan margin yang diperoleh perseroan menipis.
Irvan mengungkapkan,harga komoditas baja di sejumlah negara, seperti China, Korea, dan Jepang mengalami tekanan akibat krisis yang terjadi di Eropa. Karena itu, dia berharap, krisis yang terjadi di Eropa bisa membaik, sehingga akan memberi imbas positif terhadap pasar baja dan kinerja perseroan ke depan.
Kendati laba bersih menurun, perusahaan baja pelat merah tersebut berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar 31,03 persen menjadi Rp11,02 triliun dibanding semester I/2011 senilai Rp8,41 triliun.
Namun, naiknya pendapatan bersih perseroan seiring dengan naiknya beban pokok pendapatan sebesar 35,29 persen menjadi Rp10,16 triliun dibanding semester I tahun lalu Rp7,51 triliun. Irvan memprediksi, harga maupun volume penjualan baja setelah Lebaran akan naik. “Berdasarkan pengalaman selama 12 tahun, 11 tahun di antaranya menyebutkan harga dan volume naik setelah Lebaran,” imbuh dia.
Analis Capital Price Deddy Ertanto menilai,naiknya kebutuhan baja domestik dan luar negeri seiring meningkatnya pembangunan infrastruktur akan memberi dampak positif terhadap kinerja perseroan. Kendati mengalami penurunan, kinerja perseroan masih memiliki peluang untuk tumbuh positif, jika harga baja merangkak naik.
Direktur Utama KRAS Irvan Kamal Hakim mengatakan, turunnya laba bersih perseroan akibat tertekannya harga baja dunia akibat krisis yang melanda dunia.“Industri baja merupakan sektor komoditas, sehingga sangat tergantung dengan kondisi Internasional,” kata dia di Jakarta kemarin.
Selain krisis yang melanda Eropa,kondisi ekonomi di China yang lebih rendah dibanding tahun lalu juga akan memberi dampak pada harga baja dunia. Dia menambahkan, meski volume baja perseroan tetap tinggi,harga bahan baku yang masih tinggi tidak diimbangi dengan harga baja yang lebih rendah. Hal ini menyebabkan margin yang diperoleh perseroan menipis.
Irvan mengungkapkan,harga komoditas baja di sejumlah negara, seperti China, Korea, dan Jepang mengalami tekanan akibat krisis yang terjadi di Eropa. Karena itu, dia berharap, krisis yang terjadi di Eropa bisa membaik, sehingga akan memberi imbas positif terhadap pasar baja dan kinerja perseroan ke depan.
Kendati laba bersih menurun, perusahaan baja pelat merah tersebut berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar 31,03 persen menjadi Rp11,02 triliun dibanding semester I/2011 senilai Rp8,41 triliun.
Namun, naiknya pendapatan bersih perseroan seiring dengan naiknya beban pokok pendapatan sebesar 35,29 persen menjadi Rp10,16 triliun dibanding semester I tahun lalu Rp7,51 triliun. Irvan memprediksi, harga maupun volume penjualan baja setelah Lebaran akan naik. “Berdasarkan pengalaman selama 12 tahun, 11 tahun di antaranya menyebutkan harga dan volume naik setelah Lebaran,” imbuh dia.
Analis Capital Price Deddy Ertanto menilai,naiknya kebutuhan baja domestik dan luar negeri seiring meningkatnya pembangunan infrastruktur akan memberi dampak positif terhadap kinerja perseroan. Kendati mengalami penurunan, kinerja perseroan masih memiliki peluang untuk tumbuh positif, jika harga baja merangkak naik.
(and)
Lihat Juga :