IHSG diprediksi berada di zona hijau
Senin, 15 Oktober 2012 - 08:16 WIB
IHSG diprediksi berada di zona hijau
A
A
A
Sindonews.com - Kembali menyentuh posisi tertingginya pada penutupan pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diproyeksi masih mampu bertengger di Zona hijau, mengingat sentimen positif dari regional Asia yang masih akan berhembus sepekan ke depan.
"Pada perdagangan Senin, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.267-4.290 dan resistance 4.323-4.338," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada dalam keterangan yang diterima Sindonews, Senin (15/10/2012).
IHSG membentuk pola seperti shooting star dan kembali mendekati upper bollinger bands. MACD bergerak naik tipis dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak reversal naik mendekati area overbought.
Kenaikan IHSG kembali mengulang pergerakan seperti pada akhir pekan lalu, saat IHSG juga menyentuh level baru. Pola yang terjadi, menurut dia, kurang lebih sama. Bahkan, kembali membuat gap sehingga dimungkinkan posisi ini digunakan melakukan aksi ambil untung (profit taking).
"Oleh karena itu, jika pun terjadi pelemahan maka kondisi ini wajar dan diharapkan sentimen yang muncul tidak terlalu buruk sehingga pelemahan masih dalam tahap terbatas," ujar Reza.
Lebuh lanjut dia memaparkan, dari zona Barat, adanya berita positif dari penurunan klaim pengangguran Amerika Serikat (AS) disambut positif bursa saham Asia termasuk IHSG. Padahal, bursa saham AS sendiri justru mencatatkan pelemahan karena penurunan saham-saham berbasis teknologi.
Pergerakan bursa saham Eropa dipicu kembali khawatirnya pelaku pasar terhadap imbas pelambatan ekonomi. Setelah IMF memangkas perkiraan pertumbuhan global, beberapa lembaga pemeringkat juga memangkas perkiraan kinerja emiten di kuartal III/2012.
Tidak hanya itu, beberapa emiten juga mengonfirmsi kemungkinan penurunan kinerja, seperti Rio Tinto Group, Kazakhmys Plc dan Morgan Crucible. Kondisi ini telah menghapus kenaikan yang terjadi sehari sebelumnya karena penguatan harga saham-saham ritel.
Pergerakan bursa saham AS dipengaruhi pelemahan bursa saham Eropa karena kembali munculnya sentimen negatif terutama dari pemangkasan perkiraan pertumbuhan kinerja emiten kuartal III tahun ini. Tetapi di sisi lain, pelemahan sedikit terbatas setelah rilis data indeks consumer confidence mengalami kenaikan.
Penurunan juga dipicu ekspektasi melemahnya kinerja dari para emiten seperti, JP Morgan Chase & Co, Bank of America Corp, Wells Fargo & Co serta Advance Micro Devices Inc. Apalagi ditambah dengan banyaknya kalangan analis yang mengatakan “ no improvement ” pada kinerja emiten makin menambah skeptimisme pelaku pasar.
Padahal, dari data 35 emiten yang dirangkum Bloomberg, 69 persen melaporkan laba di atas estimasi sekaligus termasuk 51 persen mencatatkan pertumbuhan penjualan. Di sisi lain, kenaikan indeks saham Asia, terutama HSI (Hang Seng Index) juga dipicu beredarnya kembali spekulasi bahwa Pemerintah China akan segera meluncurkan stimulusnya untuk menahan pelambatan ekonomi yang terjadi.
"Hal ini muncul seiring rilis pemangkasan outlook ekonomi global oleh bank dunia dan IMF," lanjut Reza. Tetapi, jelang penutupan IHSG, pergerakan bursa saham Eropa yang sempat dibuka melemah membuat pergerakan IHSG mulai variatif meski akhirnya tetap dapat ditutup di zona hijau.
Sepanjang perdagangan pada penutupan pekan lalu, IHSG menyentuh level 4.315,86 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 4.293,73 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.311,39,97.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari regional Asia sendiri, tambah Reza, pergerakan bursa saham Asia dipicu imbas positif dari penurunan klaim pengangguran AS dan persetujuan antara China dan Jepang untuk segera mengakhiri konflik perebutan batas wilayah yang ke depannya dapat mengganggu aktivitas perdagangan ekonomi pada keduanya.
Di sisi lain, adanya kenaikan pertumbuhan ekspor China sedikit mengurangi kekhawatiran akan resesi ekonomi.
"Pada perdagangan Senin, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.267-4.290 dan resistance 4.323-4.338," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada dalam keterangan yang diterima Sindonews, Senin (15/10/2012).
IHSG membentuk pola seperti shooting star dan kembali mendekati upper bollinger bands. MACD bergerak naik tipis dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak reversal naik mendekati area overbought.
Kenaikan IHSG kembali mengulang pergerakan seperti pada akhir pekan lalu, saat IHSG juga menyentuh level baru. Pola yang terjadi, menurut dia, kurang lebih sama. Bahkan, kembali membuat gap sehingga dimungkinkan posisi ini digunakan melakukan aksi ambil untung (profit taking).
"Oleh karena itu, jika pun terjadi pelemahan maka kondisi ini wajar dan diharapkan sentimen yang muncul tidak terlalu buruk sehingga pelemahan masih dalam tahap terbatas," ujar Reza.
Lebuh lanjut dia memaparkan, dari zona Barat, adanya berita positif dari penurunan klaim pengangguran Amerika Serikat (AS) disambut positif bursa saham Asia termasuk IHSG. Padahal, bursa saham AS sendiri justru mencatatkan pelemahan karena penurunan saham-saham berbasis teknologi.
Pergerakan bursa saham Eropa dipicu kembali khawatirnya pelaku pasar terhadap imbas pelambatan ekonomi. Setelah IMF memangkas perkiraan pertumbuhan global, beberapa lembaga pemeringkat juga memangkas perkiraan kinerja emiten di kuartal III/2012.
Tidak hanya itu, beberapa emiten juga mengonfirmsi kemungkinan penurunan kinerja, seperti Rio Tinto Group, Kazakhmys Plc dan Morgan Crucible. Kondisi ini telah menghapus kenaikan yang terjadi sehari sebelumnya karena penguatan harga saham-saham ritel.
Pergerakan bursa saham AS dipengaruhi pelemahan bursa saham Eropa karena kembali munculnya sentimen negatif terutama dari pemangkasan perkiraan pertumbuhan kinerja emiten kuartal III tahun ini. Tetapi di sisi lain, pelemahan sedikit terbatas setelah rilis data indeks consumer confidence mengalami kenaikan.
Penurunan juga dipicu ekspektasi melemahnya kinerja dari para emiten seperti, JP Morgan Chase & Co, Bank of America Corp, Wells Fargo & Co serta Advance Micro Devices Inc. Apalagi ditambah dengan banyaknya kalangan analis yang mengatakan “ no improvement ” pada kinerja emiten makin menambah skeptimisme pelaku pasar.
Padahal, dari data 35 emiten yang dirangkum Bloomberg, 69 persen melaporkan laba di atas estimasi sekaligus termasuk 51 persen mencatatkan pertumbuhan penjualan. Di sisi lain, kenaikan indeks saham Asia, terutama HSI (Hang Seng Index) juga dipicu beredarnya kembali spekulasi bahwa Pemerintah China akan segera meluncurkan stimulusnya untuk menahan pelambatan ekonomi yang terjadi.
"Hal ini muncul seiring rilis pemangkasan outlook ekonomi global oleh bank dunia dan IMF," lanjut Reza. Tetapi, jelang penutupan IHSG, pergerakan bursa saham Eropa yang sempat dibuka melemah membuat pergerakan IHSG mulai variatif meski akhirnya tetap dapat ditutup di zona hijau.
Sepanjang perdagangan pada penutupan pekan lalu, IHSG menyentuh level 4.315,86 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 4.293,73 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.311,39,97.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari regional Asia sendiri, tambah Reza, pergerakan bursa saham Asia dipicu imbas positif dari penurunan klaim pengangguran AS dan persetujuan antara China dan Jepang untuk segera mengakhiri konflik perebutan batas wilayah yang ke depannya dapat mengganggu aktivitas perdagangan ekonomi pada keduanya.
Di sisi lain, adanya kenaikan pertumbuhan ekspor China sedikit mengurangi kekhawatiran akan resesi ekonomi.
(rna)
Lihat Juga :