IHSG dibayangi aksi profit taking
Senin, 22 Oktober 2012 - 08:24 WIB
IHSG dibayangi aksi profit taking
A
A
A
Sindonews.com - Kenaikan Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) berturut-turut berpotensi terjadinya profit taking. Diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.297-4.323 dan resistance 4.344-4.356.
Menurut Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, dengan banyaknya kenaikan yang dicapai oleh IHSG, bukan tidak mungkin aksi-aksi profit taking masih ada dan berpotensi melanjutkan pelemahannya.
"Apalagi dilihat dari sisi sentimen juga belum sepenuhnya kondusif, kecuali jika ada rilis laporan keuangan emiten yang cukup baik sehingga dapat menahan pelemahan tersebut," katanya di Jakarta, Senin (22/10/2012).
Sementara itu pergerakan bursa saham Asia bervariatif dipicu respons negatif pelaku pasar terhadap rilis penurunan data investasi langsung China sehingga makin mempertegas dampak perlambatan ekonomi terhadap China.
Di sisi lain, pergerakan juga dipicu respons negatif setelah beberapa rilis laporan keuangan perusahaan di Eropa dan AS yang dirilis akhir-akhir ini menunjukkan pelemahan. Akan tetapi, pelemahan terimbangi dengan rilis indeks aktivitas bisnis Jepang yang menguat.
Selain itu, rilis kinerja dari beberapa emiten Asia Pasifik cukup positif seperti perusahaan ritel Li & Fung Ltd, Softbank Corp, Woodside Petroleum Ltd, dan NEC Corp, sehingga penurunan tidak terlalu dalam.
Sebelumnya, posisi IHSG telah menyentuh area overbought dan menyimpan potensi untuk mengalami reli penurunan serta cermati ritme transaksi dan bersiap untuk mengurangi posisi bila volume beli mulai berkurang.
"Kondisi ini yang terjadi pada perdagangan akhir pekan di mana IHSG akhirnya tak kuasa melanjutkan kenaikannya karena sentimen pelemahan bursa saham AS dan Eropa sebelumnya yang mengantisipasi pertemuan KTT Uni Eropa dan kenaikan klaim pengangguran AS mingguan," jelasnya.
Padahal, bursa saham Hong Kong masih mencatatkan kenaikan meskipun rilis data foreign direct investment China terlihat menunjukkan penurunan. Variatifnya bursa saham Asia ditambah dengan pembukaan bursa saham Eropa yang memerah membuat IHSG pun sulit untuk kembali ke zona hijau.
Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.361,74 (level tertingginya) di awal sesi pertama dan sempat menyentuh level 4.322,45 (level terendahnya) jelang akhir sesi kedua dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.331,25.
"Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik tipis. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," kata Reza.
Menurut Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, dengan banyaknya kenaikan yang dicapai oleh IHSG, bukan tidak mungkin aksi-aksi profit taking masih ada dan berpotensi melanjutkan pelemahannya.
"Apalagi dilihat dari sisi sentimen juga belum sepenuhnya kondusif, kecuali jika ada rilis laporan keuangan emiten yang cukup baik sehingga dapat menahan pelemahan tersebut," katanya di Jakarta, Senin (22/10/2012).
Sementara itu pergerakan bursa saham Asia bervariatif dipicu respons negatif pelaku pasar terhadap rilis penurunan data investasi langsung China sehingga makin mempertegas dampak perlambatan ekonomi terhadap China.
Di sisi lain, pergerakan juga dipicu respons negatif setelah beberapa rilis laporan keuangan perusahaan di Eropa dan AS yang dirilis akhir-akhir ini menunjukkan pelemahan. Akan tetapi, pelemahan terimbangi dengan rilis indeks aktivitas bisnis Jepang yang menguat.
Selain itu, rilis kinerja dari beberapa emiten Asia Pasifik cukup positif seperti perusahaan ritel Li & Fung Ltd, Softbank Corp, Woodside Petroleum Ltd, dan NEC Corp, sehingga penurunan tidak terlalu dalam.
Sebelumnya, posisi IHSG telah menyentuh area overbought dan menyimpan potensi untuk mengalami reli penurunan serta cermati ritme transaksi dan bersiap untuk mengurangi posisi bila volume beli mulai berkurang.
"Kondisi ini yang terjadi pada perdagangan akhir pekan di mana IHSG akhirnya tak kuasa melanjutkan kenaikannya karena sentimen pelemahan bursa saham AS dan Eropa sebelumnya yang mengantisipasi pertemuan KTT Uni Eropa dan kenaikan klaim pengangguran AS mingguan," jelasnya.
Padahal, bursa saham Hong Kong masih mencatatkan kenaikan meskipun rilis data foreign direct investment China terlihat menunjukkan penurunan. Variatifnya bursa saham Asia ditambah dengan pembukaan bursa saham Eropa yang memerah membuat IHSG pun sulit untuk kembali ke zona hijau.
Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.361,74 (level tertingginya) di awal sesi pertama dan sempat menyentuh level 4.322,45 (level terendahnya) jelang akhir sesi kedua dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.331,25.
"Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik tipis. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," kata Reza.
(gpr)
Lihat Juga :