Dari miskin jadi runner up orang terkaya di Indonesia
Jum'at, 30 November 2012 - 09:35 WIB
Dari miskin jadi runner up orang terkaya di Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Lahir sebagai anak dari keluarga miskin membuat Oei Ek Tjhong hanya bisa menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat sekolah dasar (SD) saja. Namun siap yang sangka, laki-laki yang saat dewasa dikenal sebagai Eka Tjipta Widjaja ini, saat ini masuk dalam daftar orang kedua paling kaya di Indonesia versi Majalah Forbes.
Pria yang lahir di Coan Ciu, Fujian, Republik Rakyat Cina (China) pada 3 Oktober 1923 silam, ini bukan anak dari keluarga berada. Hijrah ke Makasar pada 1932, saat usianya baru menginjak 9 tahun, Oei Ek Tjhong bahkan tengah berutang pada seorang rentenir sebesar USD150. Jumlah yang sangat besar kala itu.
Suami dari almarhum Mellie Pirieh Widjaja ini rupanya juga sempat mengalami pahit getir dunia usaha yang tak selalu berjalan mulus. Pasangan Eka Tjipta Widjaja (87) dan Mellie Pirieh (78), dikarunia tujuh anak, yakni Nanny Widjaja 57), Lanny Widjaja (56), Jimmy Widjaja (55), Fenny Widjaja (54), Inneke Widjaja (52), Chenny Widjaja (47), dan Meilai Widjaja (46). Dari tujuh anakanya, lahir 28 cucu dan 11 cicit.
Di usianya yang masih belia, Oei Ek Tjhong mengawali kisah kegigihannya dengan membantu ayahnya mengurus sebuah toko. Dua tahun berselang Oei Ek Tjhong dan orang tuanya berhasil melunasi utangnya.
Dari situ Oei Ek Tjhong mendesak kedua orang tuanya agar dimasukkan ke sekolah lokal setingkat sekolah dasar. Namun mengingat usianya, Oei Ek Tjhong menolak bila harus mengawali pendidikannya mulai jenjang kelas satu di SD tersebut. Tapi, setelah tamat SD Oei Ek Tjhong tidak lagi melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi.
Tak patah arang, pria yang saat ini lebih dikenal sebagai Eka Tjipta Widjaja mulai melakukan usaha mandiri pertamanya dengan berjualan biskuit dan kembang gula keliling kota Makassar. Usahanya tumbuh pesat, dalam dua bulan Eka bisa mengantongi Rp20. Padahal saat itu, harga satu kilogram beras hanya Rp3-4 sen.
Eka bahkan sampai harus membeli becak guna memudahkan oprasional usahanya berdagang keliling kota Makasar. Sayangnya, usaha yang dilakoni Eka ternyata juga tak berjalan mulus.
Usahanya hancur total saat penyerbuan besar-besaran tentara Jepang ke Indonesia termasuk salah satunya ke Makasar. Di tengah keterpurukannya, Eka rupanya masih punya harapan. Gigih dan jeli melihat peluang usaha menjadi modal utama dirinya bertahan.
Dia mulai menjual barang-barang yang diperolehnya dari tentara Jepang, seperti terigu, gula dan semen milik tentara Jepang di Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa), yang sudah diabaikan.
Tertarik dengan persediaan yang dimiliki Eka, seorang kontraktor mendatanginya dan hendak membeli semennya yang akan dipergunakan untuk membuat kuburan orang kaya.
Ide bisnisnya kembali muncul. Dirinya lantas menolak menjual semen-semen miliknya dan malah menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya dilakoninya sendiri. Dibayarnya jasa tukang Rp15 per hari untuk membuat kuburan orang kaya. Diapun mendapat kontrak pembuatan enam kuburan mewah.
Di masa Orde Baru, usaha yang dilakoni Eka terus berkibar bahkan melesat sangat jauh. Dirinya bahkan berhasil membangkitkan berbagai usaha dibawah pengaruh tangan dinginnya. Sebut saja Tjiwi Kimia, perusahaan yang dibangun 1976, dan semula hanya mampu berproduksi 10.000 ton kertas (1978) disulapnya hingga mampu berproduksi 600.000 ton kertas.
Kesuksesannya pendiri Sinar Mas Grup ini, semakin dikukuhkannya dengan membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu ha di Riau pada tahun 1980-1981. Bukan hanya itu, Eka juga membeli lengkap mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton yang ada di sana. Dia juga membeli perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 ha berkapasitas 20 ribu ton.
Ekspansi bisnisnya semakin bervariasi setelah dirinya membeli Bank Internasional Indonesia pada tahun 1982. Dimana, awalnya BII hanya memiliki dua cabang dengan aset Rp13 miliar, dalam dua belas tahun, BII telah memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset lebih dari Rp9,2 triliun.
Pengalaman Eka dimasa lalu sebagai kontraktor, dimanfaatkannya dengan merambah bisnis di sektor real estate. Ia bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy ia bangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador. berbagai sumber
Pria yang lahir di Coan Ciu, Fujian, Republik Rakyat Cina (China) pada 3 Oktober 1923 silam, ini bukan anak dari keluarga berada. Hijrah ke Makasar pada 1932, saat usianya baru menginjak 9 tahun, Oei Ek Tjhong bahkan tengah berutang pada seorang rentenir sebesar USD150. Jumlah yang sangat besar kala itu.
Suami dari almarhum Mellie Pirieh Widjaja ini rupanya juga sempat mengalami pahit getir dunia usaha yang tak selalu berjalan mulus. Pasangan Eka Tjipta Widjaja (87) dan Mellie Pirieh (78), dikarunia tujuh anak, yakni Nanny Widjaja 57), Lanny Widjaja (56), Jimmy Widjaja (55), Fenny Widjaja (54), Inneke Widjaja (52), Chenny Widjaja (47), dan Meilai Widjaja (46). Dari tujuh anakanya, lahir 28 cucu dan 11 cicit.
Di usianya yang masih belia, Oei Ek Tjhong mengawali kisah kegigihannya dengan membantu ayahnya mengurus sebuah toko. Dua tahun berselang Oei Ek Tjhong dan orang tuanya berhasil melunasi utangnya.
Dari situ Oei Ek Tjhong mendesak kedua orang tuanya agar dimasukkan ke sekolah lokal setingkat sekolah dasar. Namun mengingat usianya, Oei Ek Tjhong menolak bila harus mengawali pendidikannya mulai jenjang kelas satu di SD tersebut. Tapi, setelah tamat SD Oei Ek Tjhong tidak lagi melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi.
Tak patah arang, pria yang saat ini lebih dikenal sebagai Eka Tjipta Widjaja mulai melakukan usaha mandiri pertamanya dengan berjualan biskuit dan kembang gula keliling kota Makassar. Usahanya tumbuh pesat, dalam dua bulan Eka bisa mengantongi Rp20. Padahal saat itu, harga satu kilogram beras hanya Rp3-4 sen.
Eka bahkan sampai harus membeli becak guna memudahkan oprasional usahanya berdagang keliling kota Makasar. Sayangnya, usaha yang dilakoni Eka ternyata juga tak berjalan mulus.
Usahanya hancur total saat penyerbuan besar-besaran tentara Jepang ke Indonesia termasuk salah satunya ke Makasar. Di tengah keterpurukannya, Eka rupanya masih punya harapan. Gigih dan jeli melihat peluang usaha menjadi modal utama dirinya bertahan.
Dia mulai menjual barang-barang yang diperolehnya dari tentara Jepang, seperti terigu, gula dan semen milik tentara Jepang di Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa), yang sudah diabaikan.
Tertarik dengan persediaan yang dimiliki Eka, seorang kontraktor mendatanginya dan hendak membeli semennya yang akan dipergunakan untuk membuat kuburan orang kaya.
Ide bisnisnya kembali muncul. Dirinya lantas menolak menjual semen-semen miliknya dan malah menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya dilakoninya sendiri. Dibayarnya jasa tukang Rp15 per hari untuk membuat kuburan orang kaya. Diapun mendapat kontrak pembuatan enam kuburan mewah.
Di masa Orde Baru, usaha yang dilakoni Eka terus berkibar bahkan melesat sangat jauh. Dirinya bahkan berhasil membangkitkan berbagai usaha dibawah pengaruh tangan dinginnya. Sebut saja Tjiwi Kimia, perusahaan yang dibangun 1976, dan semula hanya mampu berproduksi 10.000 ton kertas (1978) disulapnya hingga mampu berproduksi 600.000 ton kertas.
Kesuksesannya pendiri Sinar Mas Grup ini, semakin dikukuhkannya dengan membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu ha di Riau pada tahun 1980-1981. Bukan hanya itu, Eka juga membeli lengkap mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton yang ada di sana. Dia juga membeli perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 ha berkapasitas 20 ribu ton.
Ekspansi bisnisnya semakin bervariasi setelah dirinya membeli Bank Internasional Indonesia pada tahun 1982. Dimana, awalnya BII hanya memiliki dua cabang dengan aset Rp13 miliar, dalam dua belas tahun, BII telah memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset lebih dari Rp9,2 triliun.
Pengalaman Eka dimasa lalu sebagai kontraktor, dimanfaatkannya dengan merambah bisnis di sektor real estate. Ia bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy ia bangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador. berbagai sumber
(rna)
Lihat Juga :