Importir penimbun bawang putih diancam denda Rp25 M

Jum'at, 15 Maret 2013 - 18:45 WIB
Importir penimbun bawang...
Importir penimbun bawang putih diancam denda Rp25 M
A A A
Sindonews.com - Ketua Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Nawir Messi memperkirakan ratusan kontainer berisi bawang putih yang sengaja ditinggalkan importir di terminal petikemas Surabaya (TPS) adalah milik empat hingga lima importir.

"Ada unsur kesengajaan dengan meninggalkan bawang putih ini demi keuntungan. Jika ini terbukti, maka importir terancam sanksi administratif dan denda hingga Rp25 miliar," kata Nawir usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di TPS, Jumat (15/3/2013).

Selain memberikan sanksi administratif, KPPU juga bisa mengeluarkan rekomendasi ke ranah pidana. Karena telah meresahkan, sehingga harga bawang putih di pasaran melejit. "Kalau terbukti sengaja melakukan penimbunan, maka kita bisa menyertakan sanksi adminstrasi bisa juga rekomendasi penutupan usaha kepada importir nakal itu," ujarnya.

Menurutnya Nawir, banyaknya produk hortikultura yang tertahan di pelabuan itu juga karena pengaruh kebijakan pemerintah terkait impor, yakni dari Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian. Kebijakkan itu salah satunya adalah memindahkan terminal impor hortikultura ke luar pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Ketika kebijakkan itu dikeluarkan, lanjut dia, para importir hanya diberikan waktu singkat untuk penyesuaian sekitar 15 Hari. "Waktu sebanyak itu tidak cukup bagi pengusaha untuk melakukan penyesuaian. Bisa dibayangkan barang yang sudah dalam proses dan dimuat di kapal sebelum peraturan itu diberlakukan," jelasnya.

Selama tidak ada transparansi aturan, pihaknya menduga kondisi yang sama juga terjadi di beberapa produk impor lainnya. Seharusnya, pemerintah melakukan pendekatan secera kualikatif bukan kuantitatif. Artinya, terhadap besaran bea cukai.

"Contohnya, kebijakkan untuk menaikkan bea masuk hingga 200 persen. Tapi dengan catatan pemerintah juga transparan. Meskipun importir memasukkan tidak akan bentrok dengan produk-produk dari Malang dan Brebes atau daerah yang lain. Karena harganya menjadi mahal," tutur Nawir.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ombudsman Sebut Penahanan...
Ombudsman Sebut Penahanan 1,4 Juta Kg Produk Impor Hortikultura Tidak Tepat
Gara-gara Sengkarut...
Gara-gara Sengkarut Aturan, 1,4 Juta Kg Produk Impor Hortikultura Terancam Busuk
Go Global untuk Pertanian...
Go Global untuk Pertanian Indonesia, Incar 5% Pasar Dunia Tanaman Hias
Antisipasi Pasca Pandemi,...
Antisipasi Pasca Pandemi, Kementan Siapkan SDM Pertanian Bertarung di Dunia Usaha
EWINDO Pacu Inovasi...
EWINDO Pacu Inovasi Benih Sayuran untuk Ketahanan Pangan
Hebat, Anak Bangsa Ciptakan...
Hebat, Anak Bangsa Ciptakan Aquagriculture, Pertanian Berbasis Aquaculture
Berita Terkini
Pertamina NRE Akselerasi...
Pertamina NRE Akselerasi Pembangunan PLTS di Lahan Pascatambang PTBA
11 menit yang lalu
Thailand Week 2026 Kembali...
Thailand Week 2026 Kembali Digelar, Perkuat Pasar Bilateral
29 menit yang lalu
Perkuat Penyimpanan...
Perkuat Penyimpanan Pangan di Kalsel, Titiek Soeharto Resmikan Gudang Bulog Kapasitas 3.500 Ton
54 menit yang lalu
Kejar Pendapatan per...
Kejar Pendapatan per Kapita RI Lampaui USD15 Ribu, Purbaya Ungkap Kuncinya
59 menit yang lalu
Perluas Produk Unggulan...
Perluas Produk Unggulan Maluku, 11,6 Ton Frozen Tuna Loin Diekspor ke Thailand
2 jam yang lalu
Rupiah Sentuh Rp17.963,...
Rupiah Sentuh Rp17.963, Hari Ini Berakhir Sedikit Menguat Lawan Dolar AS
2 jam yang lalu
Infografis
Logo HUT ke-80 RI, Ini...
Logo HUT ke-80 RI, Ini Penjelasan Angka 80 Warna Merah-Putih dengan Garis Infinity
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved