IHSG hampir naik 3% sepanjang pekan lalu
Senin, 14 Oktober 2013 - 12:39 WIB
IHSG hampir naik 3% sepanjang pekan lalu
A
A
A
Sindonews.com - Pergerakan yang sangat baik bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mampu bertahan di zona hijaunya hingga akhir pekan walaupun di awal pekan sempat tersandung ke zona negatif terimbas peliknya masalah ekonomi Amerika Serikat (AS) yang hingga saat itu belum terlihat indikasi akan tercapainya kesepakatan.
"Dengan terjadinya shutdown parsial ekonomi AS meningkatkan preferensi risiko global dan IHSG pun kena imbasnya. Tetapi, secara bertahap IHSG dapat kembali masuk ke tren kenaikan jangka pendeknya meski rata-rata secara intraday perdagangan cenderung sideways," kata Kepala Riset Trust Securoties Reza Priyambada, Senin (14/10/2013).
Kegagahan IHSG sendiri bisa dilihat dari lajunya yang selama sepekan kemarin mengalami kenaikan 130,57 poin atau 2,97 persen, lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang melemah tipis 34,36 poin atau 0,78 persen.
Kenaikan ini juga dirasakan bagi indeks utama lainnya, dimana JII memimpin kenaikan dengan penguatan 4,58 persen diikuti indeks LQ45 dan IDX30 yang masing-masing naik 4,15 persen dan 4,13 persen.
"Di sisi lain, laju indeks sektoral mayoritas mengalami kenaikan, namun untuk sektor properti mengalami pelemahan dengan penurunan 1,46 persen," papar dia.
Pergerakan IHSG sepekan kemarin sendiri diwarnai aksi jual asing yang cukup besar. Sepanjang pekan kemarin, asing masih jualan sebesar Rp299,074 miliar atau jauh lebih rendah dari pekan sebelumnya senilai Rp1,32 triliun.
Laju bursa saham Asia yang variatif cenderung melemah setelah pelaku pasar bersikap skeptis terhadap potensi tercapainya kesepakatan anggaran AS berimbas negatif pada IHSG.
Meski laju rupiah sempat mengalami kenaikan, namun transaksi asing yang tercatat nett sell masih membuat kondisi IHSG memperpanjang keberadaannya di zona merah.
Pelemahan akhirnya mereda, dimana adanya rilis keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan level BI rate seiringi dengan meningkatnya cadangan devisa membuat laju IHSG terapresiasi.
"Meskipun asing masih lanjutkan nett sell-nya dan laju rupiah yang kembali mengalami pelemahan serta laju bursa saham Asia saat itu yang variatif tidak menghalangi IHSG untuk berada di zona hijaunya," kata Reza.
Sentimen bertahannya BI rate, lanjut Reza, memang masih berimbas, namun variatifnya laju bursa saham Asia seiring sentimen shutdown ekonomi AS dan pemangkasan proyeksi pertumbuhan global oleh IMF serta diikuti dengan pelemahan nilai tukar rupiah sempat menghambat laju kenaikan IHSG.
"Masih menguatnya saham-saham komoditas pun turut menopang laju IHSG," pungkasnya.
"Dengan terjadinya shutdown parsial ekonomi AS meningkatkan preferensi risiko global dan IHSG pun kena imbasnya. Tetapi, secara bertahap IHSG dapat kembali masuk ke tren kenaikan jangka pendeknya meski rata-rata secara intraday perdagangan cenderung sideways," kata Kepala Riset Trust Securoties Reza Priyambada, Senin (14/10/2013).
Kegagahan IHSG sendiri bisa dilihat dari lajunya yang selama sepekan kemarin mengalami kenaikan 130,57 poin atau 2,97 persen, lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang melemah tipis 34,36 poin atau 0,78 persen.
Kenaikan ini juga dirasakan bagi indeks utama lainnya, dimana JII memimpin kenaikan dengan penguatan 4,58 persen diikuti indeks LQ45 dan IDX30 yang masing-masing naik 4,15 persen dan 4,13 persen.
"Di sisi lain, laju indeks sektoral mayoritas mengalami kenaikan, namun untuk sektor properti mengalami pelemahan dengan penurunan 1,46 persen," papar dia.
Pergerakan IHSG sepekan kemarin sendiri diwarnai aksi jual asing yang cukup besar. Sepanjang pekan kemarin, asing masih jualan sebesar Rp299,074 miliar atau jauh lebih rendah dari pekan sebelumnya senilai Rp1,32 triliun.
Laju bursa saham Asia yang variatif cenderung melemah setelah pelaku pasar bersikap skeptis terhadap potensi tercapainya kesepakatan anggaran AS berimbas negatif pada IHSG.
Meski laju rupiah sempat mengalami kenaikan, namun transaksi asing yang tercatat nett sell masih membuat kondisi IHSG memperpanjang keberadaannya di zona merah.
Pelemahan akhirnya mereda, dimana adanya rilis keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan level BI rate seiringi dengan meningkatnya cadangan devisa membuat laju IHSG terapresiasi.
"Meskipun asing masih lanjutkan nett sell-nya dan laju rupiah yang kembali mengalami pelemahan serta laju bursa saham Asia saat itu yang variatif tidak menghalangi IHSG untuk berada di zona hijaunya," kata Reza.
Sentimen bertahannya BI rate, lanjut Reza, memang masih berimbas, namun variatifnya laju bursa saham Asia seiring sentimen shutdown ekonomi AS dan pemangkasan proyeksi pertumbuhan global oleh IMF serta diikuti dengan pelemahan nilai tukar rupiah sempat menghambat laju kenaikan IHSG.
"Masih menguatnya saham-saham komoditas pun turut menopang laju IHSG," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :