Puluhan ribu ton garam di Cirebon belum terserap

Jum'at, 08 November 2013 - 15:13 WIB
Puluhan ribu ton garam...
Puluhan ribu ton garam di Cirebon belum terserap
A A A
Sindonews.com - Sedikitnya 160 ribu garam yang dihasilkan selama musim produksi 2013 di Wilayah Cirebon, khususnya Kabupaten Cirebon dan Indramayu, belum terserap.

Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, Supardi menyebutkan, stok garam yang belum terserap masing-masing 81.419 ton di Kabupaten Cirebon dan 78.204 ton dari Indramayu. Selama musim produksi 2013, penyerapan garam di Kabupaten Cirebon hanya 4.142 dengan kisaran harga Rp300 sampai Rp350/kg.

"Sedangkan penyerapan garam di Indramayu 10.366 ton," kata Supardi di Cirebon, Jumat (8/11/2013).

Menurut dia, Lemahnya penyerapan garam di Wilayah Cirebon akibat petambak menahan garam hingga penawaran harga bisa lebih tinggi atau sesuai ketetapan pemerintah. Pemerintah sendiri menetapkan harga dasar garam kualitas I Rp750/kg dan Rp550/kg untuk garam kualitas II.

Namun, hal itu rupanya belum begitu efektif mendongkrak harga garam karena masih terjadi perselisihan tentang kualitas garam antara penambak dan pengepul (pengusaha) garam. Di Wilayah Cirebon sejauh ini belum ada yang mampu memproduksi garam kulitas I.

Dari hasil monitoring yang pernah dilakukan pihaknya belum lama ini, garam di Wilayah Cirebon sekitar 80 persen merupakan kualitas III dan hanya 20 persen kualitas II. Rendahnya kualitas garam di Wilayah Cirebon dikatakan dia, tak lepas dari faktor anomali cuaca (kemarau basah) yang terjadi sepanjang 2013.

"Kondisi itu membuat petani terpaksa melakukan panen garam di usia 2-3 hari," ujar dia.

Sementara, untuk menghasilkan garam berakulitas baik, masa produksi garam minimal dilakukan selama tujuh hari. Terpisah, Ketua Asosiasi Petambak Garam Seluruh Indonesia (Apgasi) DPD Jabar, M Taufik mengungkapkan, lemahnya tingkat penyerapan garam di Wilayah Cirebon membutuhkan perhatian pemerintah agar kelangsungan produksi garam bisa terus berjalan.

"Kalau petani kesulitan memasarkan garam, otomatis akan mengurangi minat produksi di tahun berikutnya," katanya.

Menurutnya, penambak garam di Wilayah Cirebon, pada umumnya Jabar, memerlukan suatu badan khusus milik pemerintah yang berfungsi sebagai penyerap garam milik penambak lokal. Dengan begitu seluruh garam bisa terserap.

Sejauh ini, program Pugar dinilai kurang efektif karena hanya menekankan kuantitas. Namun hal itu tak dibarengi dengan daya serap sehingga memproduksi garam dianggap sia-sia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Produksi Garam Sulsel...
Produksi Garam Sulsel Terus Turun Dalam 2 Tahun Terakhir
Produksi dan Kebutuhan...
Produksi dan Kebutuhan Jomplang, RI Bakal Kecanduan Impor Garam
Pakar UI: Garam Bermutu...
Pakar UI: Garam Bermutu Dihasilkan Dari Panen di Atas Meja Garam
APGRI Beberkan Penyebab...
APGRI Beberkan Penyebab Indonesia Selalu Impor Garam
Industri Pengguna Garam...
Industri Pengguna Garam Bisa Tenang, Ada Jaminan Pasokan dari Kemenperin
KPPU Endus Ada potensi...
KPPU Endus Ada potensi Rente di Impor Garam
Berita Terkini
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 menit yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
24 menit yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
57 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
1 jam yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
2 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved