Industri rajut terancam pelemahan rupiah

Jum'at, 27 Desember 2013 - 17:25 WIB
Industri rajut terancam...
Industri rajut terancam pelemahan rupiah
A A A
Sindonews.com - Industri sepatu dan rajut skala mikro dan kecil semakin mengkhawatirkan, seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir.

Kekhawatiran pelaku usaha rajut dan sepatu di Jabar didasari melambungnya harga bahan baku kulit (bahan sepatu) dan bahan baku benang (bahan rajut) yang sebagian besar impor. Harga benang yang awalnya Rp35 ribu per kg saat ini mencapai Rp40 ribu sampai Rp41 ribu per kg.

Di sisi lain, industri kesulitan menaikkan harga produk, khawatir kalah bersaing dengan produk lainnya. Perajin rajut di Sentra Rajut Binongjati, Rudi Chaniagi mengaku, perajin menanggung kerugian sekitar Rp15 ribu per lusin, sejak rupiah melemah.

Dalam dua tahun, harga satu lusin produk rajutan masih sama yaitu Rp300 ribu per lusin. Perajin kesulitan menaikkan harga produk, karena khawatir ditinggalkan pasar.

"Kenaikan harga bahan baku rata-rata Rp5 ribu per kg dan upah pekerja maklun sebesar Rp2.500 per lusin. Idealnya diimbangi kenaikan harga produk rajutan sekitar Rp20 ribu per lusin. Tapi kami hanya menaikkan Rp5 ribu per lusin," kata Rudi, Jumat (27/12/2013).

Pihaknya mengkhawtirkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus berlanjut akan mengancam industri rajut Bandung. Menurutnya, perajin rajut saat ini memilih tetap menjalankan usahanya dengan margin kecil, ketimbang menanggung rugi yang diakibatkan tidak beroperasinya puluhan mesin rajut.

Selain itu, perajin mesti membayar upah pekerja. Untuk meminimalisir angka kerugian, saat ini dia hanya memiliki 40 mesin dari sebelumnya 70 unit. Industri rajut sekala mikro dengan kepemilikan 3-5 mesin, memilih menghentikan usahanya.

Mereka tidak mampu menanggung beban kerugian akibat melambungnya harga bahan baku benang. Saat ini, perajin di Sentra Rajut Binongjati diperkirakan tidak lebih dari 100 unit.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Diproduksi di Solo,...
Diproduksi di Solo, GSP Siap Pasok Kain American Drill ke Pasar Domestik dan Global
Memahami Pentingnya...
Memahami Pentingnya Kapas Berkualitas Dorong Kesuksesan Industri Tekstil
Kolaborasi dengan MC...
Kolaborasi dengan MC Texstyle, Vira Tandia: Memudahkan Pelanggan Mendapat Bahan Kain Berkualitas
Diacak-acak Barang Impor,...
Diacak-acak Barang Impor, Juragan Tekstil Sempat Nangis Darah
Permendag 8/2024 Bakal...
Permendag 8/2024 Bakal Direvisi Disambut Baik Asosiasi Tekstil
Mendorong Industri Tekstil...
Mendorong Industri Tekstil Tanah Air Mengedepankan Bisnis Berkelanjutan
Berita Terkini
INDEF: Wacana Layer...
INDEF: Wacana Layer Cukai Rokok Murah Berisiko Tekan Penerimaan Negara
7 menit yang lalu
8 Juta Sertifikat Tanah...
8 Juta Sertifikat Tanah Gratis Bakal Diterbitkan untuk MBR, Intip Tiga Kategorinya
18 menit yang lalu
Pemanfaatan Big Data...
Pemanfaatan Big Data Analytics di Perusahaan Reasuransi
33 menit yang lalu
IHSG Ditutup Bertahan...
IHSG Ditutup Bertahan di Level 6.039, Ada 439 Saham Menguat
1 jam yang lalu
LKPP 2025 Raih Opini...
LKPP 2025 Raih Opini WTP dengan Defisit Terkendali, Purbaya Selesaikan Temuan BPK
2 jam yang lalu
Hapus Pajak JHT, Presiden...
Hapus Pajak JHT, Presiden Buruh Klaim Kantongi Restu Dirut BPJS Ketenagakerjaan
2 jam yang lalu
Infografis
Ratusan Mahasiswa Asing...
Ratusan Mahasiswa Asing Berbakat Terancam Kehilangan Masa Depan di AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved