Presiden baru diminta naikkan harga BBM 2015
Senin, 20 Januari 2014 - 13:37 WIB
Presiden baru diminta naikkan harga BBM 2015
A
A
A
Sindonews.com - Ekonom senior dari Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan meminta agar Presiden yang baru dapat menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada 2015.
Menurutnya, hal tersebut lebih baik daripada memberlakukan subsidi tetap terhadap harga BBM. Menaikkan harga BBM ini dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi negara.
"Saya cenderung pemerintah baru harus menaikkan harga BBM pada 2015," ujar Fauzi di Gedung Bank Niaga, Jakarta, Senin (20/1/2014).
Meski demikian, pihaknya mengingatkan bahwa keputusan menaikkan harga BBM adalah keputusan politis, karena harus dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu.
"Itu keputusan politis, karena para teknokrat sudah mengerti bahwa hal tersebut akan dilakukan. Tapi apakah akan jadi keputusan Presiden, kita tidak tahu," imbuh dia.
Namun, Fauzi kembali menegaskan bahwa hal ini sudah harus mulai dipikirkan dan direncanakan dengan matang karena pertimbangan beberapa hal.
"Masalahnya harga energi (minyak) turun, tapi rupiah kita melemah lebih dari 20 persen. Ini yang mengakibatkan subsidinya meledak," pungkas dia.
Menurutnya, hal tersebut lebih baik daripada memberlakukan subsidi tetap terhadap harga BBM. Menaikkan harga BBM ini dalam rangka untuk mengurangi beban subsidi negara.
"Saya cenderung pemerintah baru harus menaikkan harga BBM pada 2015," ujar Fauzi di Gedung Bank Niaga, Jakarta, Senin (20/1/2014).
Meski demikian, pihaknya mengingatkan bahwa keputusan menaikkan harga BBM adalah keputusan politis, karena harus dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu.
"Itu keputusan politis, karena para teknokrat sudah mengerti bahwa hal tersebut akan dilakukan. Tapi apakah akan jadi keputusan Presiden, kita tidak tahu," imbuh dia.
Namun, Fauzi kembali menegaskan bahwa hal ini sudah harus mulai dipikirkan dan direncanakan dengan matang karena pertimbangan beberapa hal.
"Masalahnya harga energi (minyak) turun, tapi rupiah kita melemah lebih dari 20 persen. Ini yang mengakibatkan subsidinya meledak," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :