Meraup untung dari manisnya bisnis es pisang ijo
Sabtu, 22 Maret 2014 - 14:45 WIB
Meraup untung dari manisnya bisnis es pisang ijo
A
A
A
SAAT ini, kuliner khas daerah menjadi salah satu pilihan untuk dikembangkan sebagai usaha. Salah satunya adalah es pisang ijo (hijau) khas kota Bugis, Makassar yang ditekuni oleh Herman. Seorang sarjana komunikasi ini memutuskan memulai bisnis es pisang ijo sejak bulan Ramadhan tahun 2010 karena melihat pangsa pasarnya masih besar.
Dirinya yang asli Bugis merasa tertantang melihat fenomena entrepreneur yang sukses dengan bisnis pisang ijo, namun mereka bukan asli dari Makassar.
"Kenapa saya yang asli dari Makassar tidak dapat seperti mereka, dari sinilah saya membuka usaha Es Pisang Ijo Daeng Tinggi ini," ungkapnya kepada Sindonews, baru-baru ini.
Menurut dia, keunggulan produknya ini terletak pada kulit pisang ijo yang kenyal dan tidak menggunakan zat pewarna ataupun pengawet. Selain itu, sirup DHT rasa Pisang Ambon asli Makassar yang digunakan juga menjadi keunggulan tersendiri bagi produknya.
Pada awal masa produksi, dia mengaku hanya mampu memproduksi 50 porsi dengan modal Rp3 juta. Namun saat ini, dia sudah memiliki 19 gerai (outlet) yang menjajakan Es Pisang Ijo Daeng Tinggi serta 13 mitra aktif yang menjalin kerja sama dengannya. Berkat usahanya itu, dia berhasil mengumpulkan omzet Rp150 juta hingga Rp180 juta per bulan.
"Setiap outlet mampu menjual 30 porsi per hari, dengan harga Rp10 ribu. Sedangkan untuk mitra dihargai Rp5.000 per porsi. Jadi omzet tiap bulannya di atas Rp100 juta," paparnya.
Pria kelahiran Makassar, 15 Februari 1986 ini mengungkapkan, dirinya membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjalin mitra dengannya ataupun ingin membuka outlet Es Pisang Ijo Daeng Tinggi. Dengan tanpa lahan yang luas serta modal yang besar, dirinya meyakinkan bahwa modal yang dikeluarkan akan cepat kembali.
Ketika ditanya mengapa memilih menjalankan bisnis ini, Herman menuturkan bahwa seorang sarjana itu tidak harus mencari pekerjaan. Pasalnya, setiap tahun lulusan sarjana mencapai ribuan orang, sementara lapangan pekerjaan tidak seimbang banyaknya. Oleh karena itu, dia berpikir bagaimana seorang sarjana setelah lulus dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengurangi angka pengangguran.
"Awalnya sebelum saya ke bisnis ini, saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta yang ada di Jakarta dan juga saya hadir di Jakarta dari pekerjaan tersebut. Walaupun saya tidak bekerja di perkantoran mewah, tapi saya sudah mempunyai kantor sendiri meskipun masih kecil," ungkapnya sembari tertawa.
Untuk memulai usaha, dia menjelaskan, terpenting adalah berani mengambil resiko dan menghadapi kegagalan. Namun dengan semangat dan kegigihan serta mau belajar dari pengalaman orang lain, dia meyakini usaha apapun akan sukses.
Dirinya yang asli Bugis merasa tertantang melihat fenomena entrepreneur yang sukses dengan bisnis pisang ijo, namun mereka bukan asli dari Makassar.
"Kenapa saya yang asli dari Makassar tidak dapat seperti mereka, dari sinilah saya membuka usaha Es Pisang Ijo Daeng Tinggi ini," ungkapnya kepada Sindonews, baru-baru ini.
Menurut dia, keunggulan produknya ini terletak pada kulit pisang ijo yang kenyal dan tidak menggunakan zat pewarna ataupun pengawet. Selain itu, sirup DHT rasa Pisang Ambon asli Makassar yang digunakan juga menjadi keunggulan tersendiri bagi produknya.
Pada awal masa produksi, dia mengaku hanya mampu memproduksi 50 porsi dengan modal Rp3 juta. Namun saat ini, dia sudah memiliki 19 gerai (outlet) yang menjajakan Es Pisang Ijo Daeng Tinggi serta 13 mitra aktif yang menjalin kerja sama dengannya. Berkat usahanya itu, dia berhasil mengumpulkan omzet Rp150 juta hingga Rp180 juta per bulan.
"Setiap outlet mampu menjual 30 porsi per hari, dengan harga Rp10 ribu. Sedangkan untuk mitra dihargai Rp5.000 per porsi. Jadi omzet tiap bulannya di atas Rp100 juta," paparnya.
Pria kelahiran Makassar, 15 Februari 1986 ini mengungkapkan, dirinya membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjalin mitra dengannya ataupun ingin membuka outlet Es Pisang Ijo Daeng Tinggi. Dengan tanpa lahan yang luas serta modal yang besar, dirinya meyakinkan bahwa modal yang dikeluarkan akan cepat kembali.
Ketika ditanya mengapa memilih menjalankan bisnis ini, Herman menuturkan bahwa seorang sarjana itu tidak harus mencari pekerjaan. Pasalnya, setiap tahun lulusan sarjana mencapai ribuan orang, sementara lapangan pekerjaan tidak seimbang banyaknya. Oleh karena itu, dia berpikir bagaimana seorang sarjana setelah lulus dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengurangi angka pengangguran.
"Awalnya sebelum saya ke bisnis ini, saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta yang ada di Jakarta dan juga saya hadir di Jakarta dari pekerjaan tersebut. Walaupun saya tidak bekerja di perkantoran mewah, tapi saya sudah mempunyai kantor sendiri meskipun masih kecil," ungkapnya sembari tertawa.
Untuk memulai usaha, dia menjelaskan, terpenting adalah berani mengambil resiko dan menghadapi kegagalan. Namun dengan semangat dan kegigihan serta mau belajar dari pengalaman orang lain, dia meyakini usaha apapun akan sukses.
(rna)
Lihat Juga :