Rekomendasi KAI untuk Pemerintahan Baru

Sabtu, 16 Agustus 2014 - 16:59 WIB
Rekomendasi KAI untuk...
Rekomendasi KAI untuk Pemerintahan Baru
A A A
JAKARTA - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015 yang baru disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diniai rapuh, dan memiliki ruang fiskal sempit bagi pemerintah baru. Defisit anggaran cukup besar melebihi angka 2%, dan anggaran subsidi membengkak.

Komisioner Komisi Anggaran Independen (KAI), Sugeng bahagijo mengatakan, pemerintah baru dapat melakukan efisiensi dan memangkas anggaran di kementerian/lembaga.

"Sekarang ini sudah masuk jebakan anggaran dipatok untuk anggaran-anggaran tertentu. Ini dapat diperlebar dengan cara, pertama yaitu efisiensi seperti di DKI memangkas anggaran dinas PU. Apakah secara nasional ada pendalaman seperti ini, kita tidak tahu," ujar Sugeng dalam Konferensi Pers RAPBN 2015 di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Sabtu (16/8/2014).

Lebih lanjut, dia mengatakan, cara kedua yang bisa dilakukan pemerintah baru adalah dengan mengoptimalkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Sebab, dalam 5 tahun terakhir ini pendapatan pajak tidak pernah mencapai target.

"Pajak saja 5 tahun terakhir tidak tercapai malah terjadi perlambatan penerimaan pajak. Kemungkinan hanya satu digit pertumbuhan pajak di bawah 10%. Selain itu, presiden terpilih tertekan pertumbuhan ekonomi. Delapan bulan penerimaan negara 51%," bebernya.

Pemerintah baru disarankan untuk memperluas struktur perpajakan. Orang super kaya harus dibedakan pajaknya dengan orang kaya. Selain itu, harus ada badan penerimaan negara yang langsung bertanggung jawab kepada presiden.

"Memperluas struktur perpajakan, kaya dan super kaya harus dipisahkan. Penataan lembaga, badan penerimaan negara langsung di bawah presiden. Serta peradilan pajak harus hakim yang baik dan integritas," tandasnya.

(Baca: RAPBN 2015 Wariskan Ruang Fiskal Sempit Pemerintah Baru)
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR Bahas Laporan Keuangan Pemerintah dan RAPBN 2026
Pidato Presiden Tentang...
Pidato Presiden Tentang APBN Tahun anggaran 2025 di Sidang Paripurna DPR
Banggar DPR Setujui...
Banggar DPR Setujui Postur Terbaru RAPBN 2026, Belanja Negara Naik Rp56,2 Triliun
Alokasi Dana Pendidikan...
Alokasi Dana Pendidikan dalam RAPBN 2021 Harus Sentuh Pesantren Demi Pemerataan
RAPBN 2023, Ini 5 Fokus...
RAPBN 2023, Ini 5 Fokus Pemerintahan Jokowi
Disetujui DPR, Ini Asumsi-Asumsi...
Disetujui DPR, Ini Asumsi-Asumsi dalam RAPBN 2021
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
50 menit yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
2 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
2 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
3 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved