Garuda Harap Harga Bioavur Lebih Murah dari Avtur
Selasa, 26 Agustus 2014 - 12:27 WIB
Garuda Harap Harga Bioavur Lebih Murah dari Avtur
A
A
A
JAKARTA - Direktur Operasional PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) Novianto berharap agar harga jual avtur berbahan nabati (bioavtur) yang saat ini sedang direncanakan pemerintah lebih murah dibanding avtur yang biasa digunakan.
"Kalau kita mampu memproduksi bioavtur dalam jumlah yang banyak sehingga harganya bisa sama dengan avtur, syukur-syukur bisa jauh lebih murah," ujarnya di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (26/05/2014).
Dia mengatakan, hal ini agar tidak terlalu memberatkan para pelaku usaha, yang dalam hal ini perusahaan maskapai penerbangan.
"Saya percaya dengan teknologi yang ada harganya akan sama. Bioavtur ini harganya harus seperti BBM ikut harga pasar. Intinya harganya pasar," tambah dia.
Novianto menjelaskan, pihaknya mengkonsumsi 18 juta kilo liter (kl) tiap tahunnya, yang sebagian besar dibelinya dari BUMN Minyak dan Gas (Migas) PT Pertamina (Persero).
"1,8 miliar liter (1,8 juta kl) itu mayoritas ada di pasar domestik. Itu konsumsi seluruh penerbangan. Dari Pertamina kita beli sekitar 60% setelah itu beli di mana-mana bisa di Singapura, Kuala Lumpur tergantung kita terbangnya ke mana," pungkas dia.
"Kalau kita mampu memproduksi bioavtur dalam jumlah yang banyak sehingga harganya bisa sama dengan avtur, syukur-syukur bisa jauh lebih murah," ujarnya di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (26/05/2014).
Dia mengatakan, hal ini agar tidak terlalu memberatkan para pelaku usaha, yang dalam hal ini perusahaan maskapai penerbangan.
"Saya percaya dengan teknologi yang ada harganya akan sama. Bioavtur ini harganya harus seperti BBM ikut harga pasar. Intinya harganya pasar," tambah dia.
Novianto menjelaskan, pihaknya mengkonsumsi 18 juta kilo liter (kl) tiap tahunnya, yang sebagian besar dibelinya dari BUMN Minyak dan Gas (Migas) PT Pertamina (Persero).
"1,8 miliar liter (1,8 juta kl) itu mayoritas ada di pasar domestik. Itu konsumsi seluruh penerbangan. Dari Pertamina kita beli sekitar 60% setelah itu beli di mana-mana bisa di Singapura, Kuala Lumpur tergantung kita terbangnya ke mana," pungkas dia.
(gpr)
Lihat Juga :