Ini Penyebab Garuda Masih Rugi Hingga Kuartal III/2014
Kamis, 13 November 2014 - 16:33 WIB
Ini Penyebab Garuda Masih Rugi Hingga Kuartal III/2014
A
A
A
JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyatakan belum pulihnya kondisi makroekonomi global dan tingginya bahan bakar menyebabkan perseroan masih mengalami rugi bersih sebesar USD219,51 juta atau setara Rp2,63 triliun (kurs Rp12.000) hingga kuartal III/2014.
Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar mengatakan, belum pulihnya kondisi makroekonomi global dan faktor masih tingginya harga bahan bakar yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional, serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang mencapai lebih dari 20%, menyebabkan perseroan masih membukukan comprehensive loss sebesar USD206,4 juta.
"Melambatnya pertumbuhan ekonomi global berpengaruh pada penurunan permintaan untuk rute-rute internasional dan penurunan kinerja Garuda maupun sejumlah maskapai penerbangan internasional lain, khususnya di kawasan Asia Pasifik yang pasarnya memang semakin kompetitif," ujar Emirsyah dalam rilisnya Kamis (13/11/2014).
Selain itu, faktor depresiasi rupiah, serta masih tingginya harga bahan bakar juga ikut menekan profit mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar mencapai 40%.
Di samping faktor-faktor tersebut, menurut dia, tertekannya profit Garuda juga dipengaruhi oleh lambatnya pengembangan infrastruktur transportasi udara nasional yang berdampak pada inefisiensi operasional penerbangan serta semakin ketatnya kompetisi dalam industri penerbangan Asia Pasifik terutama oleh ekspansi maskapai penerbangan murah dan maskapai penerbangan Timur Tengah.
Kinerja perusahaan juga tertekan oleh langkah investasi dalam pengembangan armada dan Citilink selama periode dua tahun terakhir.
"Berkaitan dengan tantangan kondisi industri penerbangan global dewasa ini, Garuda terus melaksanakan langkah-langkah perbaikan, memperkuat pasar domestik, melaksanakan penundaan pembukaan rute internasional, menutup rute yang merugi, serta memaksimalkan aliansi global SkyTeam untuk memperkuat pasar internasional," paparnya.
Garuda juga akan mengurangi kapasitas sementara ini melalui penghentian operasional pesawat tua yang boros bahan bakar dan menunda kedatangan pesawat yang dipesan, meningkatkan kegiatan sales dan marketing secara agresif khususnya penumpang corporate, bisnis dan wisata, serta mengurangi belanja modal tahun 2014 hingga USD54 juta.
(Baca: Garuda Catat Rugi Sembilan Bulan Rp2,63 T)
Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar mengatakan, belum pulihnya kondisi makroekonomi global dan faktor masih tingginya harga bahan bakar yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional, serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang mencapai lebih dari 20%, menyebabkan perseroan masih membukukan comprehensive loss sebesar USD206,4 juta.
"Melambatnya pertumbuhan ekonomi global berpengaruh pada penurunan permintaan untuk rute-rute internasional dan penurunan kinerja Garuda maupun sejumlah maskapai penerbangan internasional lain, khususnya di kawasan Asia Pasifik yang pasarnya memang semakin kompetitif," ujar Emirsyah dalam rilisnya Kamis (13/11/2014).
Selain itu, faktor depresiasi rupiah, serta masih tingginya harga bahan bakar juga ikut menekan profit mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar mencapai 40%.
Di samping faktor-faktor tersebut, menurut dia, tertekannya profit Garuda juga dipengaruhi oleh lambatnya pengembangan infrastruktur transportasi udara nasional yang berdampak pada inefisiensi operasional penerbangan serta semakin ketatnya kompetisi dalam industri penerbangan Asia Pasifik terutama oleh ekspansi maskapai penerbangan murah dan maskapai penerbangan Timur Tengah.
Kinerja perusahaan juga tertekan oleh langkah investasi dalam pengembangan armada dan Citilink selama periode dua tahun terakhir.
"Berkaitan dengan tantangan kondisi industri penerbangan global dewasa ini, Garuda terus melaksanakan langkah-langkah perbaikan, memperkuat pasar domestik, melaksanakan penundaan pembukaan rute internasional, menutup rute yang merugi, serta memaksimalkan aliansi global SkyTeam untuk memperkuat pasar internasional," paparnya.
Garuda juga akan mengurangi kapasitas sementara ini melalui penghentian operasional pesawat tua yang boros bahan bakar dan menunda kedatangan pesawat yang dipesan, meningkatkan kegiatan sales dan marketing secara agresif khususnya penumpang corporate, bisnis dan wisata, serta mengurangi belanja modal tahun 2014 hingga USD54 juta.
(Baca: Garuda Catat Rugi Sembilan Bulan Rp2,63 T)
(rna)
Lihat Juga :