Produk Ritel Relatif Stabil Pasca Kenaikan BBM
Sabtu, 29 November 2014 - 16:49 WIB
Produk Ritel Relatif Stabil Pasca Kenaikan BBM
A
A
A
BANDUNG - Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Henri Hendarta mengatakan, dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi belum begitu terasa bagi pebisnis ritel.
Menurut dia, adanya beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, terjadi sebelum pengumuman kenaikan harga BBM bersubsidi.
Menurutnya, kenaikan harga baru terjadi di beberapa komoditas seperti susu anak-anak yang sudah naik sebelum kenaikan harga BBM bersubsidi.
"Kenaikan harga susu anak-anak sekitar 2%-5%. Harga sayuran juga mengalami kenaikan. Itu lebih karena faktor cuaca yang mulai hujan," ujar salah satu pejabat Toserba Yogya ini di sela kegiatan Hangout Festival 7 yang diselenggarakan atas kerja sama Toserba Yogya dengan PT Coca Cola Amatil Indonesia di Cihampelas Walk Bandung, Sabtu (29/11/2014).
Sebaliknya, penurunan harga justru terjadi di minyak goreng yang mengalami penurunan sekitar 7,6% dari sebelumnya Rp26.000 per liter menjadi Rp24.000 per liter.
Penurunan ini disebabkan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia tengah mengalami penurunan.
"CPO di pasar dunia sedang turun, jadi harga minyak goreng pun turun," ucapnya.
Secara umum, barang pabrikan masih relatif stabil, karenanya komoditas yang ada secara umum belum mengalami kenaikan harga. Peritel masih menunggu produsen untuk menaikkan harga.
"Anomali cuaca masih terjadi, sehingga kenaikan harga barang ritel juga masih belum pasti. Biasanya setelah tidak terjadi anomali cuaca, harga produk ritel normal kembali," tutur dia.
Secara khusus Henri menanggapi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi. Menurutnya, setiap kali pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut di akhir tahun yang mana di sektor ritel mengalami kenaikan.
"Jadi belum terlihat dampaknya kepada kami. Apalagi menjelang libur Natal dan tahun baru. Biasanya terjadi peningkatan penjualan," ujarnya.
Menurutnya, jika pada momen Lebaran penjualan barang ritel terutama pakaian meningkat 2-3 kali lipat, di momen akhir tahun akhir sekitar 25%-nya dari momen Lebaran.
"Momen Lebaran merupakan puncak penjualan di setiap tahun atau bisa dikatakan panennya para peritel," ucap Henri.
Menanggapi larangan Menpan terkait sajian penganan impor, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Sebab, kata dia, sekitar 90% produk yang dijual peritel merupakan produk lokal.
"Kecuali ritel tertentu yang memang menyasar segmen ekspatriat, itupun tidak banyak," pungkas dia.
Menurut dia, adanya beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, terjadi sebelum pengumuman kenaikan harga BBM bersubsidi.
Menurutnya, kenaikan harga baru terjadi di beberapa komoditas seperti susu anak-anak yang sudah naik sebelum kenaikan harga BBM bersubsidi.
"Kenaikan harga susu anak-anak sekitar 2%-5%. Harga sayuran juga mengalami kenaikan. Itu lebih karena faktor cuaca yang mulai hujan," ujar salah satu pejabat Toserba Yogya ini di sela kegiatan Hangout Festival 7 yang diselenggarakan atas kerja sama Toserba Yogya dengan PT Coca Cola Amatil Indonesia di Cihampelas Walk Bandung, Sabtu (29/11/2014).
Sebaliknya, penurunan harga justru terjadi di minyak goreng yang mengalami penurunan sekitar 7,6% dari sebelumnya Rp26.000 per liter menjadi Rp24.000 per liter.
Penurunan ini disebabkan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia tengah mengalami penurunan.
"CPO di pasar dunia sedang turun, jadi harga minyak goreng pun turun," ucapnya.
Secara umum, barang pabrikan masih relatif stabil, karenanya komoditas yang ada secara umum belum mengalami kenaikan harga. Peritel masih menunggu produsen untuk menaikkan harga.
"Anomali cuaca masih terjadi, sehingga kenaikan harga barang ritel juga masih belum pasti. Biasanya setelah tidak terjadi anomali cuaca, harga produk ritel normal kembali," tutur dia.
Secara khusus Henri menanggapi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi. Menurutnya, setiap kali pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut di akhir tahun yang mana di sektor ritel mengalami kenaikan.
"Jadi belum terlihat dampaknya kepada kami. Apalagi menjelang libur Natal dan tahun baru. Biasanya terjadi peningkatan penjualan," ujarnya.
Menurutnya, jika pada momen Lebaran penjualan barang ritel terutama pakaian meningkat 2-3 kali lipat, di momen akhir tahun akhir sekitar 25%-nya dari momen Lebaran.
"Momen Lebaran merupakan puncak penjualan di setiap tahun atau bisa dikatakan panennya para peritel," ucap Henri.
Menanggapi larangan Menpan terkait sajian penganan impor, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Sebab, kata dia, sekitar 90% produk yang dijual peritel merupakan produk lokal.
"Kecuali ritel tertentu yang memang menyasar segmen ekspatriat, itupun tidak banyak," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :