Rupiah Digempur USD, OJK Minta Perbankan Waspada
Kamis, 12 Maret 2015 - 07:07 WIB
Rupiah Digempur USD, OJK Minta Perbankan Waspada
A
A
A
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta lembaga jasa keuangan, khususnya industri perbankan untuk waspada menghadapi kondisi nilai tukar rupiah yang loyo tergempur dolar Amerika Serikat (USD).
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, meski saat ini situasi yang ada di lembaga jasa Keuangan masih normal, indikator manajemen krisis pun masih hijau, namun sektor jasa keuangan tidak boleh lengah dan dituntut waspada.
"Dengan kekuatan yang dimiliki tentu saja kewaspadaan itu tanpa harus mengurangi rencana bisnis. OJK akan terus memantau terkait pasar valas dan rupiah. Ingin semua berjalan normal," katanya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3/2015) malam.
Dia menyebutkan, saat ini sektor jasa keuangan masih dalam kondisi baik. Kegiatan pembiayaan pun tetap berjalan dengan kekuatan indikator keuangan di perbankan cukup baik.
"Seperti kecukupan modal yang cukup tinggi, Capital Adequacy Ratio (CAR) 21%, kondisi likuiditas yang cukup memadai, saya kira memiliki ruang cukup besar untuk bank lebih mampu melakukan pembiayaan kegiatan ekonomi," jelasnya.
Selain itu, sambung Muliaman, target kredit dipastikan akan tetap tumbuh lebih dari 16%. Pihaknya akan terus memantau perkembangannya sejalan dengan dinamika yang terjadi, termasuk meminta lembaga jasa keuangan terus memantau fluktuasi rupiah.
"Saya kira dengan pengalaman yang sudah dimiliki pegiat industri jasa keuangan, tentu saja komitmen untuk melihat ini secara dekat, terutama bagaimana mitigasi risiko yang muncul sudah jadi policy dari lembaga jasa keuangan. Kami akan lihat secara dekat melalui pengawasan yang terintegrasi agar meyakini tidak ada kerawanan yang tidak perlu," pungkasnya.
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, meski saat ini situasi yang ada di lembaga jasa Keuangan masih normal, indikator manajemen krisis pun masih hijau, namun sektor jasa keuangan tidak boleh lengah dan dituntut waspada.
"Dengan kekuatan yang dimiliki tentu saja kewaspadaan itu tanpa harus mengurangi rencana bisnis. OJK akan terus memantau terkait pasar valas dan rupiah. Ingin semua berjalan normal," katanya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3/2015) malam.
Dia menyebutkan, saat ini sektor jasa keuangan masih dalam kondisi baik. Kegiatan pembiayaan pun tetap berjalan dengan kekuatan indikator keuangan di perbankan cukup baik.
"Seperti kecukupan modal yang cukup tinggi, Capital Adequacy Ratio (CAR) 21%, kondisi likuiditas yang cukup memadai, saya kira memiliki ruang cukup besar untuk bank lebih mampu melakukan pembiayaan kegiatan ekonomi," jelasnya.
Selain itu, sambung Muliaman, target kredit dipastikan akan tetap tumbuh lebih dari 16%. Pihaknya akan terus memantau perkembangannya sejalan dengan dinamika yang terjadi, termasuk meminta lembaga jasa keuangan terus memantau fluktuasi rupiah.
"Saya kira dengan pengalaman yang sudah dimiliki pegiat industri jasa keuangan, tentu saja komitmen untuk melihat ini secara dekat, terutama bagaimana mitigasi risiko yang muncul sudah jadi policy dari lembaga jasa keuangan. Kami akan lihat secara dekat melalui pengawasan yang terintegrasi agar meyakini tidak ada kerawanan yang tidak perlu," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :