Bahlil Akui Investasi Rp1.400 Triliun Belum Mampu Serap Banyak Tenaga Kerja
Jum'at, 26 Januari 2024 - 16:37 WIB
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. FOTO/dok.SINDOnews
JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengakui investasi yang masuk saat ini belum mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Berdasarkan laporan, sepanjang 2023 total realisasi invetasi mencapai Rp1.400 triliun dengan estimasi total serapan kerja 1,8 juta orang. Adapun iinvetasi tersebut banyak masuk ke industri padat modal sehingga kurang banyak menyerap tenaga kerja.
"Memang harus saya akui bahwa penciptaan Lapangan pekerjaan belum berbanding lurus dengan realisasi invetasi," ujar Bahlil dalam laporan kinerja invetasi 2023, dikutip Rabu (25/1/2024).
Baca Juga: Bahlil Kaget Pajak Hiburan Naik Sampai 75%: Makanya di Hold Dulu
Bahlil mengatakan salah satu instrumen meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia dengan menarik invetasi ke sektor padat modal. Sebab, industri-industri tersebut menghasilkan barang jual dengan harga yang tinggi.
"Kalau Kita mengandalkan padat karya sampai ayam tumbuh gigi negara kita tidak akan maju, karena padat karya gajinya terukur. Tetapi kalau orang kerja di industri pasti penciptaan lapangan kerja dengan upah yang cukup layak, itu cara kita untuk mendorong GDP kita bisa diatas Rp10 ribu," jelas Bahlil.
Berdasarkan laporan, sepanjang 2023 total realisasi invetasi mencapai Rp1.400 triliun dengan estimasi total serapan kerja 1,8 juta orang. Adapun iinvetasi tersebut banyak masuk ke industri padat modal sehingga kurang banyak menyerap tenaga kerja.
"Memang harus saya akui bahwa penciptaan Lapangan pekerjaan belum berbanding lurus dengan realisasi invetasi," ujar Bahlil dalam laporan kinerja invetasi 2023, dikutip Rabu (25/1/2024).
Baca Juga: Bahlil Kaget Pajak Hiburan Naik Sampai 75%: Makanya di Hold Dulu
Bahlil mengatakan salah satu instrumen meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia dengan menarik invetasi ke sektor padat modal. Sebab, industri-industri tersebut menghasilkan barang jual dengan harga yang tinggi.
"Kalau Kita mengandalkan padat karya sampai ayam tumbuh gigi negara kita tidak akan maju, karena padat karya gajinya terukur. Tetapi kalau orang kerja di industri pasti penciptaan lapangan kerja dengan upah yang cukup layak, itu cara kita untuk mendorong GDP kita bisa diatas Rp10 ribu," jelas Bahlil.
Lihat Juga :