Penerimaan Pajak Makin Merosot saat Pandemi

Jum'at, 04 September 2020 - 08:15 WIB
Ketiga, tax ratio juga terus mengalami penurunan. Bahkan selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tax ratio ini paling rendah dalam dekade terakhir. Artinya, kinerja pajak pada pemerintahan Jokowi sangat buruk. “Jadi ini sebuah prestasi pemerintahan Jokowi tax ratio-nya terendah dalam dekade terakhir,” cetus Huda.

Keempat, program SPT tahunan yang digalakan tidak selalu efektif dan berjalan semakin melambat. “Mungkin hanya efketif di 2017 saja, saat ini tidak efektif karena pada beberapa tahun terakhir si wajib pajak tidak aktif bahkan cenderung tidak bayar. Ditambah pandemi ini maka semakin jeblok,” jelasnya. (Baca juga: Pentagon: China Lirik Indonesia Untuk Jadi Pangkalan Militernya)

Kelima, tax expenditure semakin naik namun hasilnya tidak signifikan. Tahun 2019, belanja pajak estimasi sebesar Rp257,2 triliun. “Tapi kalau dilihat dari realisasi, ternyata belanja pajak makin lama makin naik dari tahun ke tahun namun tidak bisa dongkrak penerimaan. Sehingga belanja pajak patut di evaluasi,” kata Huda.

Apalagi ditengah pandemi ini adanya peningkatan pajak itu tidak elok jika harus mengorbankan sektor tertentu seperti sektor kesehatan. “Padahal kita harus mendahulukan pandeminya dariapada kejar sektor pajak,” ungkap dia. Keenam, penerimaan bea dan cukai dari IHT bisa menjadi penyelamat APBN.

Indef juga mencatat permasalahan yang sedang terjadi saat ini adanya dinamika risiko penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Tahun depan pemerintah telah memasang proyeksi harga minyak mentah seperti lifting gas yang diekspeketasi akan naik menjadi 1.007 barel.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!