Tiga Opsi Selamatkan KAI dari Jebakan Utang Kereta Cepat China
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 17:00 WIB
Opsi ketiga, menurutnya, adalah melepas sebagian kepemilikan saham pemerintah melalui KAI untuk mengundang investor strategis baru. Saat ini, struktur kepemilikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terdiri dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebagai pemegang mayoritas dengan 60 persen, yang di dalamnya KAI memegang porsi 58,53 persen, Wijaya Karya 33,36 persen, Jasa Marga 7,08 persen, dan PTPN VIII 1,03 persen. Sisanya, 40 persen saham dimiliki konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
"Pemerintah bisa mencari strategic investor yang bersedia mengambil sebagian porsi saham di KCIC. Pertanyaannya, apakah ada investor yang tertarik masuk ke proyek ini? Itu tantangannya," ujar Toto.
Ia menambahkan, langkah restrukturisasi yang tepat sangat penting agar KAI tidak semakin tertekan.
"Kalau beban utang tidak segera dikelola, risiko terhadap operasional dan keuangan KAI bisa semakin besar," pungkasnya.
"Pemerintah bisa mencari strategic investor yang bersedia mengambil sebagian porsi saham di KCIC. Pertanyaannya, apakah ada investor yang tertarik masuk ke proyek ini? Itu tantangannya," ujar Toto.
Ia menambahkan, langkah restrukturisasi yang tepat sangat penting agar KAI tidak semakin tertekan.
"Kalau beban utang tidak segera dikelola, risiko terhadap operasional dan keuangan KAI bisa semakin besar," pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :