Tiga Opsi Selamatkan KAI dari Jebakan Utang Kereta Cepat China
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 17:00 WIB
Ia mencontohkan model bisnis Japan Railways East (JR-East) yang sukses meraup pendapatan terbesar bukan dari penjualan tiket, tetapi dari pengembangan kawasan sekitarnya, termasuk pusat perbelanjaan dan properti komersial. "Pendapatan konsolidasi JR-East justru sebagian besar datang dari pengelolaan kawasan. Konsep seperti itu bisa ditiru untuk memperbaiki arus kas KCJB," kata Toto.
Namun, ia mengakui, pengembangan kawasan memerlukan investasi tambahan yang cukup besar. Kondisi ini sulit dilakukan oleh KAI mengingat beban utang proyek kereta cepat yang sudah membengkak. "Solusi jangka pendeknya adalah sebagian beban utang diambil alih Danantara, sehingga KAI bisa punya ruang untuk berinvestasi mengembangkan kawasan," ujarnya.
Selain itu, peningkatan okupansi Whoosh juga dinilai krusial. Saat ini, tingkat keterisian kereta cepat masih di bawah target moderat sekitar 60 persen per hari, sehingga pendapatan dari penjualan tiket jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional dan bunga pinjaman.
"Tanpa strategi agresif untuk meningkatkan okupansi, arus pendapatan tetap akan terbatas. Ini berbahaya karena cicilan bunga saja sudah mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun," kata Toto.
Baca Juga: Whoosh Bikin Rugi KAI Rp1,6 Triliun, Masuk Rencana Kerja Danantara
Namun, ia mengakui, pengembangan kawasan memerlukan investasi tambahan yang cukup besar. Kondisi ini sulit dilakukan oleh KAI mengingat beban utang proyek kereta cepat yang sudah membengkak. "Solusi jangka pendeknya adalah sebagian beban utang diambil alih Danantara, sehingga KAI bisa punya ruang untuk berinvestasi mengembangkan kawasan," ujarnya.
Selain itu, peningkatan okupansi Whoosh juga dinilai krusial. Saat ini, tingkat keterisian kereta cepat masih di bawah target moderat sekitar 60 persen per hari, sehingga pendapatan dari penjualan tiket jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional dan bunga pinjaman.
"Tanpa strategi agresif untuk meningkatkan okupansi, arus pendapatan tetap akan terbatas. Ini berbahaya karena cicilan bunga saja sudah mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun," kata Toto.
Baca Juga: Whoosh Bikin Rugi KAI Rp1,6 Triliun, Masuk Rencana Kerja Danantara
Lihat Juga :