Program MBG Perlu Ditingkatkan untuk Mendukung Ekonomi Keluarga
Rabu, 08 Oktober 2025 - 20:09 WIB
Program MBG yang berjalan sejak Januari 2025 bertujuan mengintervensi pemenuhan gizi masyarakat serta mencegah stunting. Namun dalam praktiknya, pelaksanaan program menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait aspek keamanan pangan di beberapa daerah yang sempat menimbulkan insiden dan berdampak pada penerima manfaat.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Hinky Hindra Irawan Satari, menilai program MBG memiliki tujuan mulia dan perlu dilanjutkan, tetapi dengan perbaikan serius di lapangan. Ia menegaskan, setiap kejadian yang terkait keamanan pangan harus menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk menghentikan program.
"Program ini jangan dihentikan, tapi harus dilaksanakan dengan cermat, bertahap, dan tepat sasaran. Pengawasan keamanan pangan mutlak dilakukan, karena kalau salah bisa berakibat fatal," kata Prof. Hinky.
Ia menuturkan, inisiatif serupa sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejak awal 1980-an, pemerintah sudah memiliki program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang berpusat di puskesmas. Dari pengalaman panjang itu, ia menilai keberhasilan program bergantung pada profesionalisme dan pengawasan ketat di lapangan.
"Program besar ini harus dijalankan secara profesional dengan memperhatikan asas food safety. Semua elemen masyarakat sebenarnya siap membantu agar pelaksanaannya aman dan berkelanjutan," tambahnya.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Hinky Hindra Irawan Satari, menilai program MBG memiliki tujuan mulia dan perlu dilanjutkan, tetapi dengan perbaikan serius di lapangan. Ia menegaskan, setiap kejadian yang terkait keamanan pangan harus menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk menghentikan program.
"Program ini jangan dihentikan, tapi harus dilaksanakan dengan cermat, bertahap, dan tepat sasaran. Pengawasan keamanan pangan mutlak dilakukan, karena kalau salah bisa berakibat fatal," kata Prof. Hinky.
Ia menuturkan, inisiatif serupa sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejak awal 1980-an, pemerintah sudah memiliki program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang berpusat di puskesmas. Dari pengalaman panjang itu, ia menilai keberhasilan program bergantung pada profesionalisme dan pengawasan ketat di lapangan.
"Program besar ini harus dijalankan secara profesional dengan memperhatikan asas food safety. Semua elemen masyarakat sebenarnya siap membantu agar pelaksanaannya aman dan berkelanjutan," tambahnya.
Lihat Juga :