Modal Asing Deras Keluar, BI Diramal Tahan Suku Bunga Acuan 4,75%
Kamis, 19 Februari 2026 - 08:23 WIB
Lonjakan ini dipicu oleh dua faktor utama seperti, low-base effect dari berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik 50% di awal tahun sebelumnya dan kenaikan harga emas dunia yang mengerek inflasi inti hingga mencapai 2,45% (yoy).
Riefky mengingatkan bahwa tantangan belum berakhir karena siklus musiman akan segera tiba. “Ke depan tekanan masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman,” kata Riefky.
Tekanan tidak hanya datang dari sektor riil, tapi juga pasar keuangan. Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif serta isu kelayakan investasi dari MSCI memicu kepanikan investor.
Baca Juga: Rupiah Ambruk, Pemangkasan Suku Bunga Acuan BI Bakal Berisiko
Tercatat, arus modal keluar dari bursa saham mencapai kisaran USD1 miliar, sementara imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun merangkak naik ke level 6,40%. “Isu kredibilitas kebijakan dan kapasitas institusi menjadi sorotan. Pasar merespons sangat cepat terhadap persepsi risiko,” jelas Riefky.
Riefky mengingatkan bahwa tantangan belum berakhir karena siklus musiman akan segera tiba. “Ke depan tekanan masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman,” kata Riefky.
Tekanan tidak hanya datang dari sektor riil, tapi juga pasar keuangan. Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif serta isu kelayakan investasi dari MSCI memicu kepanikan investor.
Baca Juga: Rupiah Ambruk, Pemangkasan Suku Bunga Acuan BI Bakal Berisiko
Tercatat, arus modal keluar dari bursa saham mencapai kisaran USD1 miliar, sementara imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun merangkak naik ke level 6,40%. “Isu kredibilitas kebijakan dan kapasitas institusi menjadi sorotan. Pasar merespons sangat cepat terhadap persepsi risiko,” jelas Riefky.
Lihat Juga :