INDEF: Wacana Layer Cukai Rokok Murah Berisiko Tekan Penerimaan Negara

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:29 WIB
Ia menilai kebijakan tersebut justru berpotensi menciptakan celah baru bagi pelaku rokok ilegal untuk memanfaatkan skema tarif yang lebih rendah tanpa sepenuhnya mematuhi ketentuan yang berlaku. Kondisi tersebut dikhawatirkan memperlemah efektivitas pengawasan sekaligus mengurangi potensi penerimaan negara.

"Menurut saya, ini akan ada kecenderungan bagi para pelaku rokok ilegal itu akan berdiri setengah kaki. Bahasa sederhananya adalah separuh nyolong. Jadi mereka akan masuk ke dalam regulasi ini, masuk ke dalam tier ini, tetapi di sisi yang lain mereka tidak akan memasukkan semua," ujarnya.

Andry juga menilai pembentukan layer baru dapat memberikan persepsi bahwa pemerintah tidak cukup serius dalam memberantas peredaran rokok ilegal. Menurutnya, langkah tersebut justru mengirimkan sinyal negatif kepada pelaku industri yang selama ini telah mematuhi ketentuan perpajakan dan cukai.

Selain itu, ia memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi memicu fenomena downtrading, yakni perpindahan produsen dari golongan tarif yang lebih tinggi ke lapisan tarif yang lebih rendah, terutama bagi produsen Sigaret Kretek Mesin (SKM) Golongan II. Perpindahan itu dinilai dapat mengurangi basis penerimaan cukai pemerintah.

"Ini justru menurunkan penerimaan cukai dari target yang diharapkan oleh pemerintah. Jadi kontraproduktif, tidak cukup efektif menanggulangi rokok ilegal, justru malah memberikan sinyal yang cukup negatif kepada industri ini," tegas Andry.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!