Harga Serat Naik, Pemilik Brand Lokal Mulai Menghitung Ulang Pilihan Kainnya

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:23 WIB
Efeknya terasa sampai ke usaha paling kecil. Pelaku UMKM yang dulu memilih toko kain berdasarkan harga per kilogram kini mulai menanyakan hal lain: apakah ketebalan kainnya sama di setiap pengiriman, apakah warnanya masih sama saat restock tiga bulan kemudian, apakah ada dokumen mutu yang bisa ditunjukkan ke calon pembeli besar.

Bandung dan Pasar Kain yang Tumbuh Puluhan Tahun



Bandung memegang posisi khusus dalam rantai ini. Kawasan Tekstil Cigondewah tumbuh sejak era 1980-an dan kini menampung ratusan kios, dengan sistem jual kiloan yang membuatnya jadi rujukan pelaku konveksi dari luar kota. Pembelinya bahkan datang dari Malaysia, Mesir, hingga Yaman. Gang Tamim di dekat Pasar Baru punya cerita serupa untuk kain denim dan bahan formal.

Pasar sebesar itu punya risikonya sendiri. Di antara ratusan lapak, kualitas tidak selalu seragam, dan pembeli pemula sering pulang membawa kain reject tanpa menyadarinya sampai proses potong dimulai. Nasihat lama pedagang di sana masih berlaku sampai sekarang: bandingkan dulu beberapa toko sebelum menurunkan pesanan besar.

Yang Dicari Pembeli Sekarang Bukan Harga Termurah

Perubahan cara pandang inilah yang mendorong sebagian pemilik brand pindah ke pemasok yang punya kontrol mutu terdokumentasi. CV Citra Kualita Perdana, yang lebih dikenal sebagai CKP Textile, adalah salah satu contohnya. Perusahaan ini berangkat dari usaha sablon manual di sebuah garasi di Jalan Komud Supadio pada 2005, dan baru masuk ke perdagangan kain satu dekade kemudian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!