Industri Tekstil Kurang Happy dengan Tarif Ekspor 0% ke AS, Ini Alasannya

Senin, 23 Februari 2026 - 09:11 WIB
loading...
Industri Tekstil Kurang...
Kesepakatan penghapusan tarif ekspor tekstil dan TPT Indonesia ke AS menjadi 0% melalui mekanisme TRQ belum sepenuhnya membuat pelaku industri senang. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Kesepakatan penghapusan tarif ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia ke Amerika Serikat (AS) menjadi 0% melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ) belum sepenuhnya membuat pelaku industri senang. Kondisi industri dalam negeri yang sedang mengalami penurunan tingkat utilisasi menjadi hambatan untuk memenuhi persyaratan volume impor bahan baku dari AS sebagai kompensasi kuota ekspor.

"Agak berat untuk mendapatkan kuota besar, karena posisi industri pemintalan yang mengkonsumsi kapas saat ini utilisasi hanya ada di bawah 50 persen," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Baca Juga: Mau Bikin BUMN Tekstil Baru, Pemerintah Siapkan Dana Rp101 Triliun

Redma menjelaskan, dalam kesepakatan terbaru, volume kuota ekspor tekstil Indonesia ke AS bergantung pada seberapa besar industri nasional mengimpor bahan baku seperti kapas dan serat buatan dari AS. Saat ini, rendahnya operasional pabrik pemintalan membuat daya serap terhadap kapas AS menurun drastis dari potensi normal sebesar 300.000 ton menjadi hanya sekitar 75.000 ton.

Dalam nota kesepahaman (MoU) yang diteken di Washington DC baru-baru ini, pihak AS menetapkan syarat agar Indonesia mengimpor setidaknya 150 ribu ton kapas. Redma menegaskan, agar Indonesia bisa meningkatkan volume impor kapas guna mendapatkan kuota ekspor yang lebih besar, pemerintah harus terlebih dahulu membenahi masalah utilisasi di tingkat industri pemintalan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Rekomendasi
Lewat Jalur Independen,...
Lewat Jalur Independen, Luki Murdianto Perkenalkan Karya Musik Asal Banten ke Kancah Nasional
Presiden Prabowo: Hanya...
Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Besok Hari Asyura, Ini...
Besok Hari Asyura, Ini Doa yang Dianjurkan dan Mulai Diamalkan Malam Ini!
Berita Terkini
Prabowo Prediksi Indonesia...
Prabowo Prediksi Indonesia Swasembada BBM 3 Tahun Lagi
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved