Ealah! Sistem Tarif Cukai Rokok di RI Ternyata Paling Ruwet Sedunia
Senin, 21 Juni 2021 - 22:57 WIB
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
JAKARTA - Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) merilis riset yang mengungkapkan bahwa pengendalian tembakau di Indonesia masih belum maksimal. Hal ini terbukti dari korelasi jumlah perokok dan beban biaya kesehatan yang ditimbulkan dari tidak efektifnya pengendalian tembakau di Indonesia.
Dalam riset terbarunya, CISDI menyebut konsumsi rokok dapat menyebabkan kerugian ekonomi, khususnya sistem kesehatan dan keluarga senilai Rp27,7 triliun. Senior Advisor Gender and Youth for the Director-General Diah Saminarsih mengatakan bahwa ada konsekuensi di level nasional ketika pengendalian tembakau tidak berjalan secara maksimal.
"Karena itu, kita harus fokus untuk memprioritaskan simplifikasi struktur tarif cukai hasil tembakau. Selain itu pelayanan kesehatan primer dan mekanisme jaminan kesehatan nasional juga menjadi prioritas," ujar Diah di Jakarta, Senin (21/6/2021).
Baca Juga: 'Dipompom' Erick Thohir, Saham Indofarma Ngamuk!
Dalam riset terbarunya, CISDI menyebut konsumsi rokok dapat menyebabkan kerugian ekonomi, khususnya sistem kesehatan dan keluarga senilai Rp27,7 triliun. Senior Advisor Gender and Youth for the Director-General Diah Saminarsih mengatakan bahwa ada konsekuensi di level nasional ketika pengendalian tembakau tidak berjalan secara maksimal.
"Karena itu, kita harus fokus untuk memprioritaskan simplifikasi struktur tarif cukai hasil tembakau. Selain itu pelayanan kesehatan primer dan mekanisme jaminan kesehatan nasional juga menjadi prioritas," ujar Diah di Jakarta, Senin (21/6/2021).
Baca Juga: 'Dipompom' Erick Thohir, Saham Indofarma Ngamuk!
Lihat Juga :