Kongres Diaspora, Direktur Bank Dunia Soroti Ketimpangan Vaksinasi di Sejumlah Negara
Sabtu, 14 Agustus 2021 - 15:00 WIB
Di sisi lain, kerjasama global antar-negara untuk memastikan sisi supply-demand dari vaksin perlu dilakukan. "Saya hanya ingin menyampaikan bahwa global cooperation dalam sisi ketersediaan dari negara maju ke negara berkembang perlu dilakukan," ujar Mari sembari berujar bahwa produsen vaksin masih terkonsentrasi di negara maju.
Diketahui, Indonesia menargetkan lebih dari 200 juta populasi penduduk untuk divaksin dengan target rata-rata 1-2 juta dosis suntikan per hari di beberapa wilayah yang menjadi prioritas.
Mari Elka yang merupakan ekonom senior lulusan Universitas California ini lantas menyoroti ketimpangan vaksinasi di sejumlah negara. "Saat ini di Afrika hanya 1 persen dibanding di negara maju, dan produksi juga masih terkonsentrasi di negara maju," tuturnya.
Dari sisi permintaan (demand-side), Mari menuturkan 'negara harus siap menerima pasokan vaksin secara rutin', sembari mempertimbangkan faktor-faktor kesiapan lainnya seperti persoalan imunitas dari tenaga kesehatan, pelatihan pekerja, dan pendekatan vaksinasi ke masyarakat.
"Dua hal yang paling besar pengaruhnya adalah kecukupan dari tenaga medis untuk melakukan vaksinasi dan komunikasi dari negara dan komunitas ke masyarakat," kata wanita yang juga pernah menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Diketahui, Indonesia menargetkan lebih dari 200 juta populasi penduduk untuk divaksin dengan target rata-rata 1-2 juta dosis suntikan per hari di beberapa wilayah yang menjadi prioritas.
Mari Elka yang merupakan ekonom senior lulusan Universitas California ini lantas menyoroti ketimpangan vaksinasi di sejumlah negara. "Saat ini di Afrika hanya 1 persen dibanding di negara maju, dan produksi juga masih terkonsentrasi di negara maju," tuturnya.
Dari sisi permintaan (demand-side), Mari menuturkan 'negara harus siap menerima pasokan vaksin secara rutin', sembari mempertimbangkan faktor-faktor kesiapan lainnya seperti persoalan imunitas dari tenaga kesehatan, pelatihan pekerja, dan pendekatan vaksinasi ke masyarakat.
"Dua hal yang paling besar pengaruhnya adalah kecukupan dari tenaga medis untuk melakukan vaksinasi dan komunikasi dari negara dan komunitas ke masyarakat," kata wanita yang juga pernah menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Lihat Juga :