Gas Masih Penting dalam Transisi Energi, Ini Alasannya

Jum'at, 08 Oktober 2021 - 14:41 WIB
Sejak pertama kali diproduksikan tahun 1965, kebutuhan gas bumi untuk rumah tangga di Indonesia terus meningkat. Sebelumnya, gas lebih banyak digunakan untuk tujuan ekspor. Saat ini, lebih dari 60% produksi gas Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam Rencana Umum Energi Nasional, gas bumi ditargetkan mencapai porsi 24% dalam bauran energi nasional tahun 2050. "Cadangan Gas Indonesia antara lain menjadi salah satu faktor penentu target tersebut," jelas Tutuka.

Konsumen gas terbesar dalam negeri adalah industri sebesar 28,22%, listrik 12,04% dan pupuk sebesar 12,45%. Sedangkan 20,05% diekspor dalam bentuk LNG dan sebanyak 13,15% diekspor melalui pipa. Adapun total konsumsi gas pada Juni 2021 mencapai 5.661,38 BBUTD.

Baca Juga: Transisi Energi, PGN Genjot Investasi Perluas Pasar Gas Bumi

Dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri, khususnya industri maupun pembangkit listrik, pemerintah terus meningkatkan pembangunan infrastruktur dan pembangunan transmisi pipa gas. Antara lain, pipa Cirebon-Semarang tie in West Natuna Transportation System (WNTS)-Pemping dan Sei ruas Mangkei-Dumai. Selain itu, pengembangan pipa LNG skala kecil dan virtual untuk mengamankan pasokan energi di daerah-daerah yang terkendala faktor geografis, seperti di pulau-pulau kecil terutama yang berlokasi di bagian timur Indonesia.

Indonesia menargetkan produksi gas bumi sebesar 12 BSCFD pada 2030. Berdasarkan pengukuran Neraca Gas Indonesia, diperkirakan ada potensi surplus untuk memasok kebutuhan industri baru di dalam negeri atau untuk diekspor.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!