Milenial di Sulsel Manfaatkan Listrik PLN untuk Industri Peternakan 4.0
Jum'at, 11 Maret 2022 - 12:53 WIB
Baca juga:Harapkan Kelayakan Listrik di Bahandang, Bupati Titip Ini ke Kepala PLN Marabahan
Salah satu peternak ayam close farm di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel, Mustakim mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan dalam mengelola peternakan ayam adalah memelihara dan menjaga suhu tubuh ayam.
"Dengan metode kandang close farm, listrik memegang peranan penting untuk mengoperasikan 16 kipas blower yang digunakan menjaga suhu kandang," pungkas Mustakim.
Baca juga:PLN Rogoh Kocek Rp372 Miliar Bangun GITET Sigli-Ulee Kareng
Peternak milenial tersebut mengatakan, listrik mempunyai peranan penting dalam mendukung peternakan close farm. Apabila harus menggunakan genset untuk mengoperasikan kipas blower, penghangat ruangan dan lampu membutuhkan rata-rata 3.600 liter solar atau setara Rp32 jutaan per bulannya.
Sedangkan jika menggunakan listrik, Mustakim hanya perlu mengeluarkan biaya Rp7 jutaan per bulan untuk operasional peternakan close farmnya.
"Setelah menggunakan listrik, kami dapat mengoptimalkan produksi yang tadinya panen membutuhkan waktu 28 hari kini hanya membutuhkan waktu 22 hari sehingga dari sisi efektifitas waktu lebih singkat dan omset kami pun otomatis meningkat," imbuhnya.
Baca juga:3 Infrastruktur Kelistrikan Tingkatkan Keandalan Listrik Sulut dan Gorontalo
Salah satu peternak ayam close farm di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel, Mustakim mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan dalam mengelola peternakan ayam adalah memelihara dan menjaga suhu tubuh ayam.
"Dengan metode kandang close farm, listrik memegang peranan penting untuk mengoperasikan 16 kipas blower yang digunakan menjaga suhu kandang," pungkas Mustakim.
Baca juga:PLN Rogoh Kocek Rp372 Miliar Bangun GITET Sigli-Ulee Kareng
Peternak milenial tersebut mengatakan, listrik mempunyai peranan penting dalam mendukung peternakan close farm. Apabila harus menggunakan genset untuk mengoperasikan kipas blower, penghangat ruangan dan lampu membutuhkan rata-rata 3.600 liter solar atau setara Rp32 jutaan per bulannya.
Sedangkan jika menggunakan listrik, Mustakim hanya perlu mengeluarkan biaya Rp7 jutaan per bulan untuk operasional peternakan close farmnya.
"Setelah menggunakan listrik, kami dapat mengoptimalkan produksi yang tadinya panen membutuhkan waktu 28 hari kini hanya membutuhkan waktu 22 hari sehingga dari sisi efektifitas waktu lebih singkat dan omset kami pun otomatis meningkat," imbuhnya.
Baca juga:3 Infrastruktur Kelistrikan Tingkatkan Keandalan Listrik Sulut dan Gorontalo
Lihat Juga :