Perang Ukraina Bisa Bikin Harga Batu Bara Memanas hingga USD500 per Ton

Minggu, 13 Maret 2022 - 20:08 WIB
Lantaran harga gas terus melonjak, pemerintah Eropa mungkin mencari batu bara untuk mengisi kekurangan dalam pembangkit listrik karena penggunaan gas diperkecil. Namun, konsumen batu bara akan berjuang untuk mendapatkan pasokan tambahan dari produsen alternatif karena keseimbangan penawaran /permintaan batu bara termal lintas laut internasional sangat ketat.

Yang menjadi masalah, tidak hanya berperan sebagai pemasok utama di Eropa, Rusia juga mengirimkan batu baranya ke berbagai belahan dunia. Rusia merupakan eksportir terbesar ketiga dunia setelah Indonesia dan Australia. Pada 2020, ekspor Rusia mencapai 212 juta ton menurut Badan Energi Dunia (IEA).

Seberapa Tinggi Harga Batu Bara Bisa Naik?

Jika sanksi terhadap perdagangan batu bara dengan Rusia berlanjut atau ada gangguan pada transportasi kereta api dan pelabuhan Rusia, maka langit adalah batasnya. Produsen dan pedagang melaporkan bahwa pembeli sudah mulai beralih dari batu bara Rusia baik di pasar Atlantik dan Pasifik.

Dan ancaman peningkatan permintaan, namun kurangnya pasokan yang tersedia bisa menimbulkan gejolak pasar. Dalam seminggu terakhir, harga batu bara di Eropa dan Pasifik telah mengalami lompatan besar.

Sebagai tanda betapa ketat dan gugupnya pasar, perdagangan fisik batu bara Newcastle FOB (6.000 kkal) dilaporkan minggu lalu di USD400 per ton.

Baca Juga: Harga Batu Bara Bakal Meledak Lagi, Pengamat: Keuntungan Besar Sudah di Tangan

Jika pasokan dari Rusia berhenti akibat perang, dunia akan kurang lebih akan kehilangan 17% pasokannya. Adapun, sanksi yang diterima Rusia mempengaruhi suplai batu bara dunia. Meskipun demikian, hantaman terbesar dirasakan Eropa karena harga gas alam meroket membuat batu bara jadi alternatif.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!