Jurus Rubel untuk Gas Rusia Bikin Sekutu AS di Eropa dan Asia Kelabakan

Jum'at, 25 Maret 2022 - 09:04 WIB
Korea Selatan, importir LNG Rusia terbesar ketiga di Asia, berharap dapat melanjutkan impor. Komisi Jasa Keuangan Korea bahkan telah menyatakan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memfasilitasi perdagangan.

Baca Juga: Giliran Jepang Kebingungan Harus Pakai Rubel untuk Bayar Gas Rusia

Di Polandia, CEO PGNiG Pawel Majewski mengatakan perusahaan - yang memiliki kontrak dengan Gazprom hingga akhir tahun ini - tidak bisa begitu saja beralih ke pembayaran dalam rubel. "Mitra kontrak kita tidak bisa seenaknya mengubah cara pembayaran yang diatur dalam kontrak," ujarnya.

Raksasa energi Denmark, Orsted, yang juga memiliki kontrak take-or-pay jangka panjang dengan Gazprom, mengatakan kemungkinan dampak dari langkah tersebut tidak jelas.

RWE dan Uniper, klien Gazprom terbesar di Jerman, tidak segera berkomentar pada hari Kamis, sementara Naturgy Spanyol, yang memiliki kontrak dengan Yamal LNG, juga menolak berkomentar.

Untuk saat ini, gas Rusia masih terus mengalir. Namun tanggapan Kremlin atas kecemasan negara-negara "tak bersahabat" yang mengimpor gas dari Rusia tegas. Mereka harus menerima kebijakan tersebut untuk mendapatkan gas.

Dikutip dari RT.com, menanggapi keengganan Bulgaria membayar dengan rubel, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa masalah sudah selesai. "Bulgaria harus membayar dalam rubel, suka atau tidak!"
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!