Belum Dibayar, PLN Tagih Utang Kompensasi Listrik Sejak 2017
Jum'at, 26 Juni 2020 - 08:08 WIB
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Arya Bima dalam rapat tersebut menanyakan dampak terhadap keuangan PLN bila pemerintah membayar utang kompensasi. “Jadi kalau ada pencairan ini, PLN sampai Oktober enggak akan bangkrut kan?” tanya Arya Bima. (Baca: Utang Bengkak Rp500Triliun, Dirut: PLN Tidak Sehat)
Arya pun menilai, hal ini penting diverifikasi. Sebab menurut laporan keuangan pada kuartal pertama, PLN tercatat merugi hingga Rp38 triliun. Apalagi, PLN punya banyak utang yang harus segera dibayar.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli membenarkan bahwa pada kuartal I/2020, perusahaan yang dipimpinnya mengalami kerugian sebesar Rp38,78 triliun. Kerugian tersebut merupakan kerugian yang sifatnya rugi kurs.
Dia menjelaskan, ada perbedaan kurs dolar pada 31 Desember 2019 dengan 21 Maret 2020 saat laporan keuangan disampaikan. “Berdasarkan praktik korporasi, harga kurs sebagai basis perhitungan ditetapkan sesuai dengan harga dolar saat laporan keuangan dibuat,” terangnya.
Meski merugi, Zulkifli optimistis PLN bisa bertahan hingga akhir tahun. Dengan syarat, pemerintah membayarkan kompensasi utang sebesar Rp45,42 triliun tersebut. “Saya optimistis jika utang itu dibayarkan pemerintah, PLN akan bertahan. Dana itu tentunya akan menyelamatkan kondisi keuangan perusahaan,” tegasnya.
Zulkifli juga menjelaskan, untuk menyehatkan kondisi keuangan, PLN juga telah mengupayakan pinjaman internasional dengan bunga rendah di pasar global. Selain itu, PLN juga telah bekerja sama dengan himpunan bank milik negara (Himbara) yang memberikan dana sebesar Rp28 triliun. “Perusahaan terus menjaga likuiditas keuangan secara bijaksana dan konservatif. Berbagai cara dilakukan untuk menstabilkan keuangan perusahaan,” tegasnya. (Baca juga: Pemkot Bogor Luncurkan Aplikasi Jejak untuk Data Pengunjung Mal)
Arya pun menilai, hal ini penting diverifikasi. Sebab menurut laporan keuangan pada kuartal pertama, PLN tercatat merugi hingga Rp38 triliun. Apalagi, PLN punya banyak utang yang harus segera dibayar.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli membenarkan bahwa pada kuartal I/2020, perusahaan yang dipimpinnya mengalami kerugian sebesar Rp38,78 triliun. Kerugian tersebut merupakan kerugian yang sifatnya rugi kurs.
Dia menjelaskan, ada perbedaan kurs dolar pada 31 Desember 2019 dengan 21 Maret 2020 saat laporan keuangan disampaikan. “Berdasarkan praktik korporasi, harga kurs sebagai basis perhitungan ditetapkan sesuai dengan harga dolar saat laporan keuangan dibuat,” terangnya.
Meski merugi, Zulkifli optimistis PLN bisa bertahan hingga akhir tahun. Dengan syarat, pemerintah membayarkan kompensasi utang sebesar Rp45,42 triliun tersebut. “Saya optimistis jika utang itu dibayarkan pemerintah, PLN akan bertahan. Dana itu tentunya akan menyelamatkan kondisi keuangan perusahaan,” tegasnya.
Zulkifli juga menjelaskan, untuk menyehatkan kondisi keuangan, PLN juga telah mengupayakan pinjaman internasional dengan bunga rendah di pasar global. Selain itu, PLN juga telah bekerja sama dengan himpunan bank milik negara (Himbara) yang memberikan dana sebesar Rp28 triliun. “Perusahaan terus menjaga likuiditas keuangan secara bijaksana dan konservatif. Berbagai cara dilakukan untuk menstabilkan keuangan perusahaan,” tegasnya. (Baca juga: Pemkot Bogor Luncurkan Aplikasi Jejak untuk Data Pengunjung Mal)
Lihat Juga :