Inflasi AS Tembus 9,1%, The Fed Diramal Kerek Suku Bunga di Akhir Juli
Kamis, 14 Juli 2022 - 10:34 WIB
Harga-harga di AS telah naik sejak akhir tahun lalu karena gangguan rantai pasokan akibat Pandemi Covid-19 dan harga makanan yang lebih mahal juga disebabkan oleh cuaca buruk. Perang di Ukraina memperparah untuk ikut mendorong kenaikan harga komoditas secara global.
Beberapa ekonom juga menyalahkan program pengeluaran Covid-19 era Presiden Joe Biden karena memperburuk kenaikan harga. Secara total, ia mengerahkan stimulus senilai USD5 triliun untuk melindungi rumah tangga dan bisnis dari guncangan ekonomi dampak pandemi.
Awal pekan ini pemerintahan Biden, yang popularitasnya mulai berkurang seiring lonjakan inflasi, mencoba meredam kenaikan harga Juni. Ia menekankan bahwa biaya energi dan komoditas lainnya telah turun tajam.
Tetapi Quincy Krosby, Kepala Strategi Ekuitas di LPL Financial, mengatakan komentar itu adalah "indikasi kekhawatiran telah semakin dalam bagi pemerintah".
"Tidak ada yang mengharapkan lebih dari 9%," tambahnya.
Baca Juga: Ngerinya Dampak Inflasi AS: Bisa Munculkan Resesi Ekonomi
Beberapa ekonom juga menyalahkan program pengeluaran Covid-19 era Presiden Joe Biden karena memperburuk kenaikan harga. Secara total, ia mengerahkan stimulus senilai USD5 triliun untuk melindungi rumah tangga dan bisnis dari guncangan ekonomi dampak pandemi.
Awal pekan ini pemerintahan Biden, yang popularitasnya mulai berkurang seiring lonjakan inflasi, mencoba meredam kenaikan harga Juni. Ia menekankan bahwa biaya energi dan komoditas lainnya telah turun tajam.
Tetapi Quincy Krosby, Kepala Strategi Ekuitas di LPL Financial, mengatakan komentar itu adalah "indikasi kekhawatiran telah semakin dalam bagi pemerintah".
"Tidak ada yang mengharapkan lebih dari 9%," tambahnya.
Baca Juga: Ngerinya Dampak Inflasi AS: Bisa Munculkan Resesi Ekonomi
Lihat Juga :