Ngerinya Dampak Inflasi AS: Bisa Munculkan Resesi Ekonomi
Rabu, 08 Juni 2022 - 14:44 WIB
loading...
Kenaikan suku bunga AS bisa memicu terjadinya resesi ekonomi. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Inflasi di Amerika Serikat sudah mencapai 8% dan dikhawatirkan akan memicu naiknya suku bunga AS oleh The Fed . Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan, kenaikan tingkat suku bunga AS atau The Fed Rate yang excessive atau berlebihan, bahkan bisa 3-4 kali kenaikannya di tahun 2022, bisa memicu terjadinya resesi ekonomi .
Baca juga: Soal Harga Pangan ke Depan, Kepala BKF: Waspadai Musim Kemarau Basah
"Resesi karena kenaikan biaya bunga atau cost of fund bagi pelaku usaha, khususnya pelaku usaha yang memiliki rasio utang cukup tinggi. Mereka akan kesulitan membayar pinjaman sementara tidak semua permintaan mengalami kenaikan. Belum semua permintaan mengalami kenaikan seperti di level pra-pandemi," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Rabu (8/6/2022).
Dia menyebut sudah terjadi disrupsi rantai pasok, dan sebelumnya sudah ada konflik di Ukraina-Rusia yang mendorong kenaikan harga pangan dan energi. Ini akhirnya menjadi beban bagi pemulihan ekonomi di hampir seluruh negara.
"Kenaikan suku bunga yang berlebihan juga akan memicu larinya modal asing secara masif terutama kembali ke aset-aset yang dinilai aman sehingga mereka akan mengurangi investasi di negara-negara berkembang atau emerging market. Situasi ini bisa berdampak ke pemulihan ekonomi Indonesia yang tumbuh 5% bisa terkoreksi bahkan bisa kembali minus," ungkap Bhima.
Maka dari itu, perlu dipersiapkan dari sisi gelombang instabilitas moneter secara global. Yang pertama adalah pemerintah bertindak all-out dengan berbagai cara menjaga agar sisi fiskal bisa menjadi bantalan, seperti melalui subsidi energi, subsidi pangan, bahkan bantuan pupuk untuk para petani sehingga baik inflasi energi maupun inflasi pangan bisa terjaga hingga akhir tahun, sampai pemulihan daya beli masyarakat di Indonesia pulih seperti kondisi pra-pandemi.
Baca juga: Soal Harga Pangan ke Depan, Kepala BKF: Waspadai Musim Kemarau Basah
"Resesi karena kenaikan biaya bunga atau cost of fund bagi pelaku usaha, khususnya pelaku usaha yang memiliki rasio utang cukup tinggi. Mereka akan kesulitan membayar pinjaman sementara tidak semua permintaan mengalami kenaikan. Belum semua permintaan mengalami kenaikan seperti di level pra-pandemi," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Rabu (8/6/2022).
Dia menyebut sudah terjadi disrupsi rantai pasok, dan sebelumnya sudah ada konflik di Ukraina-Rusia yang mendorong kenaikan harga pangan dan energi. Ini akhirnya menjadi beban bagi pemulihan ekonomi di hampir seluruh negara.
"Kenaikan suku bunga yang berlebihan juga akan memicu larinya modal asing secara masif terutama kembali ke aset-aset yang dinilai aman sehingga mereka akan mengurangi investasi di negara-negara berkembang atau emerging market. Situasi ini bisa berdampak ke pemulihan ekonomi Indonesia yang tumbuh 5% bisa terkoreksi bahkan bisa kembali minus," ungkap Bhima.
Maka dari itu, perlu dipersiapkan dari sisi gelombang instabilitas moneter secara global. Yang pertama adalah pemerintah bertindak all-out dengan berbagai cara menjaga agar sisi fiskal bisa menjadi bantalan, seperti melalui subsidi energi, subsidi pangan, bahkan bantuan pupuk untuk para petani sehingga baik inflasi energi maupun inflasi pangan bisa terjaga hingga akhir tahun, sampai pemulihan daya beli masyarakat di Indonesia pulih seperti kondisi pra-pandemi.
Lihat Juga :