Utang China di Afrika demi Kuasai Harta Karun Bikin Bank Dunia Ketakutan
Senin, 03 April 2023 - 10:12 WIB
loading...
Presiden Bank Dunia David Malpass saat berkunjung ke Afrika. Foto/Anadolu/BBC
A
A
A
JAKARTA - Presiden Bank Dunia David Malpass mengungkapkan kecemasannya atas utang yang diberikan China kepada negara-negara berkembang di Afrika. Malpas menegaskan bahwa syarat dan kententuan pemberian utang itu haru lebih transparan.
Baca juga: David Malpass: Pemimpin Bank Dunia yang Sempat Menyangkal Perubahan Iklim Umumkan Mundur
Melansir BBC, Senin (4/3/2023), kecemasan Malpass itu diungkapkan saat negara-negara Afrika, termasuk Ghana dan Zambia sedang berjuang untuk membayar utang mereka ke Beijing. China sendiri mengatakan bahwa pinjaman semacam itu dilakukan dalam aturan internasional.
Menurut Beijing, negara berkembang sering meminjam uang dari negara lain atau badan multilateral untuk membiayai sektor yang akan menumbuhkan ekonomi mereka, seperti infrastruktur, pendidikan, dan pertanian.
Namun kenaikan suku bunga yang tajam di AS dan ekonomi negara utama lainnya selama setahun terakhir membuat pembayaran lebih mahal karena banyak pinjaman dilakukan dalam mata uang asing seperti dolar atau euro.
Situasi itu adalah masalah yang sangat akut bagi ekonomi berkembang yang berjuang untuk menemukan uang ekstra yang diperlukan karena nilai mata uang mereka sendiri jatuh.
"Ini adalah pukulan ganda dan itu berarti pertumbuhan [ekonomi] akan lebih lambat," kata Mr Malpass.
Baca juga: David Malpass: Pemimpin Bank Dunia yang Sempat Menyangkal Perubahan Iklim Umumkan Mundur
Melansir BBC, Senin (4/3/2023), kecemasan Malpass itu diungkapkan saat negara-negara Afrika, termasuk Ghana dan Zambia sedang berjuang untuk membayar utang mereka ke Beijing. China sendiri mengatakan bahwa pinjaman semacam itu dilakukan dalam aturan internasional.
Menurut Beijing, negara berkembang sering meminjam uang dari negara lain atau badan multilateral untuk membiayai sektor yang akan menumbuhkan ekonomi mereka, seperti infrastruktur, pendidikan, dan pertanian.
Namun kenaikan suku bunga yang tajam di AS dan ekonomi negara utama lainnya selama setahun terakhir membuat pembayaran lebih mahal karena banyak pinjaman dilakukan dalam mata uang asing seperti dolar atau euro.
Situasi itu adalah masalah yang sangat akut bagi ekonomi berkembang yang berjuang untuk menemukan uang ekstra yang diperlukan karena nilai mata uang mereka sendiri jatuh.
"Ini adalah pukulan ganda dan itu berarti pertumbuhan [ekonomi] akan lebih lambat," kata Mr Malpass.
Lihat Juga :