Perang Hampir 18 Bulan, Ini Alasan Ekonomi Rusia Tetap Tangguh

Rabu, 02 Agustus 2023 - 14:28 WIB
loading...
Perang Hampir 18 Bulan,...
Hampir 18 bulan setelah perang Ukraina dimulai, ekonomi Rusia tetap tangguh meski dihujani sanksi barat. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Hampir 18 bulan setelah perang Ukraina dimulai, ekonomi Rusia tampaknya terus berkembang. Pertumbuhan ekonomi Rusia ini membingungkan para ekonom yang meramalkan hasil yang sangat buruk menyusul sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap invasi Moskow ke Ukraina.

Sementara beberapa ekonom mempertanyakan kualitas dan kebenaran rilis data Rusia, sebuah laporan New York Times pada hari Senin memberikan gambaran yang berbeda mengenai ekonomi masa perang negara ini dan bagaimana hal ini membantu meningkatkan dukungan rakyat untuk Vladimir Putin.

Mengutip Business Insider, alasan ekonomi Rusia sejauh ini tetap tangguh disebabkan oleh langkah-langkah Kremlin. Times melaporkan bahwa Putin meningkatkan produksi peralatan militer dan menaikkan pensiun, gaji, dan tunjangan lain untuk orang-orang yang tidak mampu. Negara juga memberikan subsidi untuk hipotek.

Baca Juga: Polandia Ketakutan Diinvasi Wagner, Begini Respons AS

Times melaporkan, tentara yang bertempur dalam perang juga mendapatkan gaji yang jauh lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata di daerah-daerah miskin di Rusia. Sebagai contoh, Rusia menawarkan minimal 160 ribu rubel atau sekitar USD1.740 dolar AS setara Rp14 juta dalam bentuk gaji bulanan untuk tentara kontrak pada September lalu tiga kali lebih tinggi dari rata-rata nasional, demikian yang dilaporkan Reuters.

Pembayaran dalam jumlah besar bagi mereka yang tewas dalam perang misalnya, pembayaran 5 juta rubel untuk keluarga pejuang Grup Wagner yang tewas dalam perang beredar dalam perekonomian.

Langkah-langkah ini telah meningkatkan permintaan dan harga untuk berbagai produk dan layanan di Rusia. Bank Sentral Rusia melaporkan pinjaman korporasi telah meningkat 19% pada tahun ini hingga Juni seiring dengan meningkatnya investasi.

Sementara itu, nilai hipotek yang diambil dari 20 bank terbesar di Rusia melonjak 63% pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, mengutip pemberi pinjaman yang dikelola pemerintah Dom.RF, dan perusahaan riset real estat Frank Media.

Perekonomian Rusia berjalan sangat panas sehingga bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 1 poin persentase pada 21 Juli dua kali lipat dari 0,5 poin persentase yang diperkirakan para analis yang disurvei Reuters untuk menjinakkan inflasi yang mencapai 3,25% di bulan Juni dari tahun lalu.

"Sebagai seorang ekonom, saya tidak tahu bagaimana gelembung ini dapat dikempiskan," kata Alexandra Prokopenko, seorang peneliti di Carnegie Russia Eurasia Center dan mantan penasihat di bank sentral Rusia, kepada The Times.

"Suatu hari nanti, semuanya bisa runtuh seperti rumah kartu," tambahnya.

Bank Sentral Rusia juga telah berterus terang tentang penilaian suramnya terhadap ekonomi, yang terkadang bertentangan dengan pernyataan yang lebih bullish dari Kremlin. Namun, lembaga ini telah mendapatkan tekanan dari Moskow untuk memberikan penilaian yang lebih optimis mengenai perekonomian negara ini, Bloomberg melaporkan pada bulan Februari.

Namun, para ahli ekonomi tidak optimis mengenai prospek ekonomi Rusia meskipun mereka mengakui kekuatan ekonominya saat ini. Pada bulan April tahun lalu, Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengatakan bahwa cadangan devisa negara ini tidak akan bertahan selamanya.

Baca Juga: Situasi Memanas, 2 Helikopter Sekutu Rusia Serbu Negara NATO

Pada bulan Desember, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai inflasi dan ketatnya pasar tenaga kerja akibat wajib militer yang diberlakukan Putin. Dia mengulangi kekhawatirannya tentang kenaikan harga dan kekurangan tenaga kerja dalam pengumuman kenaikan suku bunga di bulan Juli.

Ariel Chernyy, seorang ekonom di bank Italia UniCredit, memperkirakan PDB Rusia akan tumbuh 1% tahun ini membalikkan kontraksi 2,1% tahun lalu, menurut sebuah catatan pada 6 Juli yang dilihat oleh Insider.

Chernyy mengatakan bahwa ketahanan ekonomi negara ini disebabkan oleh pengeluaran pemerintah dan implementasi proyek-proyek substitusi impor yang mendorong industri domestik. Namun, hal ini tidak berarti tingkat pertumbuhan PDB yang lebih tinggi yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang karena menyusutnya jumlah tenaga kerja dan isu-isu lain seperti substitusi impor yang lebih rendah.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aden Indonesia Sinergi...
Aden Indonesia Sinergi Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Routa
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Rekomendasi
Biogas, Energi Terbarukan...
Biogas, Energi Terbarukan sebagai Upaya Mencapai Target Net Zero Emission
Asosiasi Dosen Ilmu...
Asosiasi Dosen Ilmu Hukum dan Kriminologi Indonesia: Jokowi Apresiasi UU Polri Baru
Di Hadapan Mahasiswa,...
Di Hadapan Mahasiswa, Dasco Telepon Nanik dan Bahlil
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved