China Coba Meredakan Ketakutan Ekonomi di Tengah Utang Jumbo Pengembang Properti
Senin, 21 Agustus 2023 - 11:02 WIB
loading...
A
A
A
Investor asing menarik diri dari real estat China setelah default sebelumnya dan "pembuat kebijakan harus turun tangan untuk mencegah krisis di China," kata McKeown.
Real estat mendorong ledakan ekonomi China, tetapi pengembang meminjam dengan jumlah besar ketika mereka mengubah kota menjadi hutan apartemen dan menara perkantoran. Kondisi tersebut mendorong total utang perusahaan, pemerintah dan rumah tangga setara dengan lebih dari 300% dari output ekonomi tahunan, luar biasa tinggi untuk negara berpenghasilan menengah.
Setelah bertahun-tahun diperingatkan, pada akhirnya menyebabkan lembaga pemeringkat global memotong peringkat kredit pemerintah China pada tahun 2017. Selanjutnya partai yang berkuasa menekan utang real estat pada tahun 2020.
Dimana diberlakukan pengawasan yang dikenal sebagai "tiga garis merah" yang melarang pengembang dengan utang jumbo untuk meminjam dengan nilai besar demi melunasi obligasi dan pinjaman bank saat sudah jatuh tempo.
Pelemahan Industri real estat mempersulit upaya pemerintah pemimpin China, Xi Jinping untuk membalikkan kemerosotan ekonomi yang semakin dalam setelah rebound menyusul berakhirnya kebijakan keras pengendalian Covid-19.
Ekonomi tumbuh dengan kuat 2,2% dibandingkan kuartal sebelumnya pada periode Januari-Maret. Tapi kemudian turun menjadi hanya 0,8% dalam tiga bulan yang berakhir pada Juni. Sama dengan tingkat tahunan 3,2%, yang akan menjadi salah satu paling lemah dalam beberapa dekade.
Meningkatkan pengeluaran real estat adalah solusi partai yang berkuasa untuk meredam penurunan sebelumnya. Pemerintah Xi telah melonggarkan pembatasan pinjaman oleh pengembang dan mengatakan kepada bank untuk memberikan pinjaman kepada pembeli rumah. Tetapi tampaknya upaya itu tetap berpegang pada tujuan pengurangan utang secara keseluruhan.
Real estat mendorong ledakan ekonomi China, tetapi pengembang meminjam dengan jumlah besar ketika mereka mengubah kota menjadi hutan apartemen dan menara perkantoran. Kondisi tersebut mendorong total utang perusahaan, pemerintah dan rumah tangga setara dengan lebih dari 300% dari output ekonomi tahunan, luar biasa tinggi untuk negara berpenghasilan menengah.
Setelah bertahun-tahun diperingatkan, pada akhirnya menyebabkan lembaga pemeringkat global memotong peringkat kredit pemerintah China pada tahun 2017. Selanjutnya partai yang berkuasa menekan utang real estat pada tahun 2020.
Dimana diberlakukan pengawasan yang dikenal sebagai "tiga garis merah" yang melarang pengembang dengan utang jumbo untuk meminjam dengan nilai besar demi melunasi obligasi dan pinjaman bank saat sudah jatuh tempo.
Pelemahan Industri real estat mempersulit upaya pemerintah pemimpin China, Xi Jinping untuk membalikkan kemerosotan ekonomi yang semakin dalam setelah rebound menyusul berakhirnya kebijakan keras pengendalian Covid-19.
Ekonomi tumbuh dengan kuat 2,2% dibandingkan kuartal sebelumnya pada periode Januari-Maret. Tapi kemudian turun menjadi hanya 0,8% dalam tiga bulan yang berakhir pada Juni. Sama dengan tingkat tahunan 3,2%, yang akan menjadi salah satu paling lemah dalam beberapa dekade.
Meningkatkan pengeluaran real estat adalah solusi partai yang berkuasa untuk meredam penurunan sebelumnya. Pemerintah Xi telah melonggarkan pembatasan pinjaman oleh pengembang dan mengatakan kepada bank untuk memberikan pinjaman kepada pembeli rumah. Tetapi tampaknya upaya itu tetap berpegang pada tujuan pengurangan utang secara keseluruhan.
(akr)
Lihat Juga :