alexametrics

Waspada Pembajakan Akun Medsos Kian Marak Sejak Pandemi, Influencer Jadi Sasaran Empuk

loading...
Waspada Pembajakan Akun Medsos Kian Marak Sejak Pandemi, Influencer Jadi Sasaran Empuk
Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kondisi pandemi membuat motivasi penjahat untuk melakukan pembajakan akun email atau media sosial (medsos) semakin tinggi pula. Ini sebagai dampak kegiatan usaha rumahan yang mengandalkan medsos semakin marak.

Bahkan tren terkini sang pembajak semakin lihai menirukan gaya komunikasi layaknya admin sehingga membuat orang mudah percaya. Tidak sedikit korban yang hanya bisa mengadu di medsos sambil mewanti-wanti orang lain agar tidak ikut terjebak. (Baca juga: Meski Pandemi, Hewan Kurban Malah Semakin Ramai di Cisauk)

Senior Manager Information Security Blibli.com Ricky Setiadi menjelaskan, saat ini praktik e-commerce terbagi dua yaitu social commerce dan e-tailing. Social commerce artinya melakukan jual beli memanfaatkan medsos untuk bertransaksi.

"Saat ini memang lagi ramai orang menggunakan medsos sebagai lahan berjualan. Karena belum ada aturan main ketat dari penyedia platform. Keunggulannya mudah dalam bertransaksi, berinteraksi, untuk pemasaran, dan lainnya," ujar Ricky di Jakarta, Sabtu (1/8/2020).



Namun demikian, menurutnya ada banyak masalah yang ditimbulkan dari transaksi online yang menggunakan medsos. Dia merujuk data dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk profil transaksi di Indonesia. Datanya menunjukan statistik di sisi pelanggan tentang keluhan bertransaksi di ecommerce. (Baca juga: Ketika Alvaro Morata dan Istri Kompak Ucapkan Ultah buat Anak Kembarnya di Medsos)

Adapun beberapa keluhan yang kerap disuarakan oleh pelanggan yang disurvei antara lain 28,2% yang menyatakan pelanggan tidak menerima barang yang dipesan atau tidak terkirim.



Kemudian, sebanyak 15,3% barang pesanan tidak sesuai dan 15,3% menyatakan bermasalah dengan sistem refund. Selain itu, 12,8% bermasalah dengan sistem platform dalam bertransaksi, lalu 12,8% terjadi penipuan dalam transaksi, serta 7,6% bermasalah dengan perihal lainnya. "Juga terdapat 2,5% yang melaporkan pembajakan account, mereka" ujarnya.

Jika melihat data dari para penjual atau seller, persentase keluhan tersebut boleh jadi datang dari beberapa seller social commerce yang akunnya dibajak.

Menurut dia, saat ini motivasi para pelaku kejahatan akan berujung kepada masalah keuangan. Seberapa besar mereka bisa mendapatkan uang dari hasil hacking-nya. "Ada banyak metode yang dilakukan oleh mereka sebelum melakukan memeras uang dari hasil bajakannya," ujarnya.

Bahkan bila dirinya memosisikan diri sebagai penjahat maka yang dipikirkan tentu saja menjalankan prinsip-prinsip ekonomi yaitu harus praktis atau efisien demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Salah satu cara yang efektif tentu dengan melakukan pembajakan terhadap akun para influencer. Pasalnya, semakin banyak follower-nya maka semakin banyak seseorang memiliki potensial untuk meng-endorse sebuah produk. Semakin banyak endorsement, semakin banyak penghasilan yang didapatkan. (Baca juga: Tak Ada Habisnya Dengan Influencer)

Berawal dari hijack account-nya, si pelaku akan mencoba untuk melakukan hacking terhadap akun lainnya termasuk akun bidang keuangannya.

"Ini karena kebanyakan dari kita akan menggunakan pola yang hampir sama dalam mengamankan akun kita. Seperti menggunakan password yang sama untuk semua akun, atau kalaupun tidak sama akan menggunakan informasi-informasi pribadi lainnya yang mudah ditebak seperti tanggal, tahun, bulan lahir pasangan, anak, nomor rumah, dan lainnya," bebernya.
(ind)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top