Jerman Bisa Kembali Sandang Julukan 'Orang Sakit di Eropa'
Kamis, 21 September 2023 - 13:20 WIB
loading...
Dirundung beragam persoalan, ekonomi Jerman terpuruk dan berpotensi kembali menyandang julukan Orang Sakit di Eropa. Foto/Ilustrasi/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di Uni Eropa (UE), bisa kembali menyandang julukan ‘Orang Sakit di Eropa’ jika gagal mengatasi permasalahan struktural yang merundung perekonomiannya. Hal itu ditegaskan CEO Deutsche Bank Christian Sewing dalam pidatonya di Handelsblatt Banken Summit 2023, yang dikutip Russia Today, Kamis (21/9/2023).
Julukan "Orang Sakit di Eropa" diberikan kepada negara-negara di Eropa ketika mereka mengalami kesulitan ekonomi, kerusuhan sosial, atau pemiskinan. Jerman pernah mendapat julukan ini pada akhir tahun 1990-an dan digambarkan dalam kondisi seperti ini pada awal tahun 2000-an.
Baca Juga: Perang Rusia Ukraina Rugikan Jerman Rp2,57 Kuadraliun
"Kami bukanlah 'Orang Sakit di Eropa'. Tetapi juga benar bahwa ada kelemahan struktural yang menghambat perekonomian kita dan menghambatnya untuk mengembangkan perekonomian kita secara besar-besaran," kata Sewing. "Kita akan menjadi 'Orang Sakit di Eropa' jika kita tidak mengatasi masalah-masalah struktural ini sekarang,” tambahnya.
Sewing mengidentifikasi masalah-masalah tersebut antara lain biaya energi yang tinggi dan tidak dapat diprediksi, koneksi internet yang lambat, jaringan kereta api yang ketinggalan jaman, tumpukan digitalisasi, kurangnya pekerja terampil, dan birokrasi yang berlebihan dan prosedur persetujuan yang panjang.
Negara dengan perekonomian terbesar di UE ini terus bergulat dengan tantangan di sektor manufaktur karena biaya energi yang tinggi. Negara ini secara resmi masuk ke dalam resesi teknis pada kuartal pertama tahun ini karena pertumbuhan PDB direvisi dari nol menjadi -0,3%.
Baca Juga: Kanselir Olaf Scholz: Jerman Butuh Lebih Banyak Imigran
Julukan "Orang Sakit di Eropa" diberikan kepada negara-negara di Eropa ketika mereka mengalami kesulitan ekonomi, kerusuhan sosial, atau pemiskinan. Jerman pernah mendapat julukan ini pada akhir tahun 1990-an dan digambarkan dalam kondisi seperti ini pada awal tahun 2000-an.
Baca Juga: Perang Rusia Ukraina Rugikan Jerman Rp2,57 Kuadraliun
"Kami bukanlah 'Orang Sakit di Eropa'. Tetapi juga benar bahwa ada kelemahan struktural yang menghambat perekonomian kita dan menghambatnya untuk mengembangkan perekonomian kita secara besar-besaran," kata Sewing. "Kita akan menjadi 'Orang Sakit di Eropa' jika kita tidak mengatasi masalah-masalah struktural ini sekarang,” tambahnya.
Sewing mengidentifikasi masalah-masalah tersebut antara lain biaya energi yang tinggi dan tidak dapat diprediksi, koneksi internet yang lambat, jaringan kereta api yang ketinggalan jaman, tumpukan digitalisasi, kurangnya pekerja terampil, dan birokrasi yang berlebihan dan prosedur persetujuan yang panjang.
Negara dengan perekonomian terbesar di UE ini terus bergulat dengan tantangan di sektor manufaktur karena biaya energi yang tinggi. Negara ini secara resmi masuk ke dalam resesi teknis pada kuartal pertama tahun ini karena pertumbuhan PDB direvisi dari nol menjadi -0,3%.
Baca Juga: Kanselir Olaf Scholz: Jerman Butuh Lebih Banyak Imigran
Lihat Juga :