Ancaman Inflasi Global, IMF Menyoroti Perang Israel-Hamas hingga Perlambatan China

Kamis, 12 Oktober 2023 - 06:11 WIB
loading...
Ancaman Inflasi Global,...
Dana Moneter Internasional atau IMF mengamati dengan seksama perang Israel-Hamas untuk setiap dampak pada inflasi global. Foto/Dok Reuters
A A A
NEW YORK - Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah banyaknya sentimen negatif. IMF juga menyoroti perlambatan di China , perubahan iklim, dan potensi bahwa perang Israel-Hamas dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.

"Pertumbuhan masih cukup lambat dan tidak merata dan risiko terhadap prospek ini masih sangat negatif," ujar Wakil Direktur Departemen Riset IMF, Petya Koeva Brooks seperti dilansir Yahoo Finance.

Baca Juga: Perang Israel vs Hamas Jadi Pukulan Telak Ekonomi Global

Dalam prospek yang baru dirilis Selasa kemarin, IMF memperkirakan ekonomi global akan tumbuh pada 3% tahun ini, sejalan dengan proyeksi dari Juli. Akan tetapi akan ada penurunan tahun depan mencapai sepersepuluh poin persentase menjadi 2,9%.

Brooks mengatakan, IMF mengamati dengan seksama perang Israel-Hamas untuk setiap dampak pada inflasi global. Meski begitu menurutnya, masih terlalu dini untuk menentukan dampak ekonomi dari konflik tersebut.

Baca Juga: 10 Lembaga Keuangan Internasional Paling Berpengaruh di Dunia, dari IMF hingga Bank BRICS

Sementara inflasi global telah mencapai puncaknya secara headline – yang mencakup harga energi dan pangan yang bergejolak – lonjakan harga minyak global sebagai respons terhadap perang Israel-Hamas mengancam untuk menyalakan kembali inflasi utama jika kenaikan harga terus berlanjut.

Risikonya adalah lonjakan harga minyak bisa meresap ke dalam apa yang disebut inflasi inti. Brooks memberikan catatan, bahwa aturan praktis tentang bagaimana harga minyak berdampak pada inflasi adalah bahwa kenaikan 10% dalam harga minyak yang berkelanjutan akan diterjemahkan ke dalam inflasi di tingkat global mencapai 0,4.

Hal itu akan menambah risiko inflasi utama, dimna Brooks mengatakan, perubahan iklim kini juga telah menjadi masalah ekonomi makro.

"Ini benar-benar mengejutkan dalam berapa banyak kasus yang diterangkan dalam proyeksi kami, karena banjir atau kekeringan atau sekali lagi, peristiwa terkait cuaca," katanya.

"Ini adalah risiko khusus dalam hal harga pangan dan ketahanan pangan. Pada tahap siklus inflasi ini, tentu tidak akan membantu dalam putaran kenaikan harga," paparnya.

Risiko besar lain yang dilihat IMF terhadap ekonomi global adalah perlambatan ekonomi China, ketika Negeri berjuluk Tirai Bambu itu sedang menghadapi krisis sektor properti. IMF menurunkan proyeksi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut sebesar 0,2% tahun ini menjadi 5% dan 0,3% tahun depan menjadi 4,2%.

Raksasa properti China Evergrande meninggalkan restrukturisasi utangnya sebesar USD19 miliar dari obligasi internasionalnya. Pemberi pinjaman properti lainnya, Country Garden, gagal membayar pembayaran internasional dan juga diprediksi tidak memenuhi semua pembayaran obligasi berdenominasi dolar AS atau kewajiban utang luar negeri lainnya ketika jatuh tempo.

"Pertanyaannya adalah sejauh mana (krisis real estate) akan memiliki implikasi yang lebih luas," katanya.

Meski begitu Ia mengatakan, IMF menyakini pihak berwenang China memiliki alat yang diperlukan untuk menangani kegagalan real estat yang sedang berlangsung. Tetapi sebagian besar tindakan yang telah diambil sejauh ini adalah mencoba menopang permintaan real estat.

IMF merekomendasikan China menangani kelebihan pasokan real estat untuk menyelesaikan masalah pasar. "Kami berharap bahwa begitu risiko ditangani, tidak akan menular ke sektor sekitarnya di China," sambungnya.

IMF mencatat dalam laporannya bahwa tekanan keuangan di sektor real estat bisa berakhir meluas ke seluruh sektor keuangan.

"Jika kekhawatiran tentang stabilitas keuangan di China memburuk, dampaknya dapat dirasakan di ekonomi pasar berkembang lainnya melalui volatilitas nilai tukar dan destabilisasi arus modal," bunyi laporan itu.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Inflasi Indonesia Mei...
Inflasi Indonesia Mei 2026 Capai 3,08%, Ini Pendorongnya
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
Inflasi Medis Picu Kenaikan...
Inflasi Medis Picu Kenaikan Biaya Kesehatan, Allianz Ingatkan Pentingnya Proteksi Jangka Panjang
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Presiden Mahmoud Abbas:...
Presiden Mahmoud Abbas: Pilpres Palestina Digelar Awal 2027
Rekomendasi
Disentil Jadi Partai...
Disentil Jadi Partai Penyeimbang, PDIP: Golkar Urus Pemadaman Listrik Saja
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
Transformasi Pendidikan...
Transformasi Pendidikan 3T: Dari Ruang Kelas Baru hingga Pembelajaran Digital
Berita Terkini
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Terungkap 2 Alasan di...
Terungkap 2 Alasan di Balik Pemadaman Bergilir Pulau Jawa, Dirut PLN Minta Maaf
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved