Rupiah Terus Merosot Tajam hingga Tembus Rp15.838/USD, Masih Amankah?
Jum'at, 20 Oktober 2023 - 14:34 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Rupiah Kejeblos ke Rp15.700/USD, Ekonom Memperingatkan: Ini Sudah Warning!
Dia pun menyebutkan bahwa seandainya rupiah menyentuh Rp16.000 per USD, dan terjadi dalam kurun waktu yang cukup panjang, dikhawatirkan akan berdampak pada imported cost. Hal ini kemudian akan mendorong peningkatan imported inflation.
"Sejauh ini memang belum ada langkah khusus yang dilakukan pemerintah untuk mencegah pelemahan rupiah lebih jauh, karena ini memang lebih dipengaruhi oleh kondisi global," tandas Riefky.
Sementara itu sebelumnya Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa kuatnya dolar AS menyebabkan tekanan pelemahan berbagai mata uang negara lain, termasuk nilai tukar Rupiah. Dibandingkan akhir tahun 2022, indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) pada 18 Oktober 2023 tercatat tinggi di level 106,21 atau menguat 2,60% (ytd).
"Sangat kuatnya dolar AS ini memberikan tekanan depresiasi mata uang hampir seluruh mata uang dunia, seperti Yen Jepang, Dolar Australia, dan Euro yang melemah masing-masing 12,44%, 6,61% dan 1,40% (ytd), serta depresiasi mata uang kawasan, seperti Ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan Peso Filipina masing-masing 7,23%, 4,64% dan 1,73% (ytd)," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG BI di Jakarta, Kamis (19/10/2023).
Dia pun menyebutkan bahwa seandainya rupiah menyentuh Rp16.000 per USD, dan terjadi dalam kurun waktu yang cukup panjang, dikhawatirkan akan berdampak pada imported cost. Hal ini kemudian akan mendorong peningkatan imported inflation.
"Sejauh ini memang belum ada langkah khusus yang dilakukan pemerintah untuk mencegah pelemahan rupiah lebih jauh, karena ini memang lebih dipengaruhi oleh kondisi global," tandas Riefky.
Sementara itu sebelumnya Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa kuatnya dolar AS menyebabkan tekanan pelemahan berbagai mata uang negara lain, termasuk nilai tukar Rupiah. Dibandingkan akhir tahun 2022, indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) pada 18 Oktober 2023 tercatat tinggi di level 106,21 atau menguat 2,60% (ytd).
"Sangat kuatnya dolar AS ini memberikan tekanan depresiasi mata uang hampir seluruh mata uang dunia, seperti Yen Jepang, Dolar Australia, dan Euro yang melemah masing-masing 12,44%, 6,61% dan 1,40% (ytd), serta depresiasi mata uang kawasan, seperti Ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan Peso Filipina masing-masing 7,23%, 4,64% dan 1,73% (ytd)," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG BI di Jakarta, Kamis (19/10/2023).
(akr)
Lihat Juga :