Pajaki Gas Rusia, Petinggi Bulgaria Berniat Gembosi Mesin Perang Putin

Selasa, 31 Oktober 2023 - 12:22 WIB
loading...
Pajaki Gas Rusia, Petinggi...
Pemimpin Bulgaria menuding Hungaria dan Serbia membantu memberi makan mesin perang Kremlin, usai gagal mencari pasokan energi alternatif. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pemimpin Bulgaria menuding Hungaria dan Serbia membantu memberi makan "mesin perang" Kremlin, usai gagal mencari pasokan energi alternatif. Hal itu disampaikan di tengah perbedaan pendapat mengenai peningkatan pajak impor gas.

Baca Juga: Raksasa Migas Rusia, Gazprom: China Bakal Gantikan Sepenuhnya Pasar UE yang Hilang

Perdana Menteri Bulgaria, Nikolai Denkov memberikan sinyal, bahwa pemerintahannya tidak memiliki rencana untuk mundur dari retribusi gas Rusia yang transit di Bulgaria. Diterangkan olehnya, retribusi tersebut sebagai upaya menekan keuntungan yang didapatkan oleh eksportir Rusia yakni Gazprom .

Dimana keuntungan eksportir yang dikendalikan negara itu diyakini dipakai untuk mendanai perang melawan Ukraina. Di sisi lain Hungaria menyebut, rencana retribusi yang diumumkan bulan ini sebagai "tindakan bermusuhan," sementara Serbia mengatakan pajak mengancam bisa menghentikan pasokan bahan bakar ke wilayahnya.

"Ada cukup waktu untuk mencari alternatif, untuk melihat bahwa keuntungan ini memberi makan mesin perang Putin," kata Denkov, (61 tahun) dalam sebuah wawancara di sela-sela pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels.

Baca Juga: Negara UE Usulkan Larangan Penuh pada Barang-barang Rusia

"Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sebenarnya, ini seharusnya terjadi lebih awal," sambungnya.

Kebuntuan itu mengungkap invasi Presiden Rusia, Vladimir Putin telah membentuk kembali pasokan energi di wilayah tersebut, di mana gangguan tersebut memicu krisis biaya hidup paling parah bagi konsumen dalam beberapa dekade.

Pipa Turkstream Gazprom, yang membentang di bawah Laut Hitam ke Turki sebelum melintasi Bulgaria, menyediakan pasokan bahan bakar utama untuk beberapa negara Balkan Barat yang lebih kecil.

Denkov, yang bersikeras bahwa peraturan itu sejalan dengan aturan Uni Eropa, mengatakan dia terbuka untuk pembicaraan dengan Budapest dan Beograd. Dia menuduh pemerintah di bawah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dan Presiden Serbia Aleksandar Vucic memicu ketakutan tak berdasar akan kenaikan harga daripada terlibat dalam pembicaraan.

Secara historis, Bulgaria adalah sebuah negara dengan ikatan kuat dengan Rusia, namun Bulgaria telah berjanji untuk mengurangi ketergantungannya pada Moskow setelah bertahun-tahun hampir sepenuhnya bergantung pada gas Rusia, minyak dan bahan bakar nuklir.

Bulgaria merupakan salah satu negara anggota Uni Eropa pertama yang terputus dari pasokan Rusia setelah Ukraina diinvasi mulai tahun lalu. Demi melepas diri dari energi Rusia, mereka mendorong percepatan proyek yang telah lama tertunda untuk mengamankan impor dari Azerbaijan dan terminal gas cair regional di Yunani dan Turki.

Denkov juga berjanji untuk meningkatkan dukungan militer kepada Ukraina setelah beberapa kabinet sementara masih ragu-ragu. Sebagai produsen utama amunisi gaya Soviet, Bulgaria sekarang ingin memperluas kapasitas produksinya, kata perdana menteri.

Bulgaria juga bagian dari inisiatif bersama negara-negara anggota NATO di kawasan Laut Hitam, bersama dengan Rumania dan Turki, untuk mendirikan misi pembersihan ranjau, yang diharapkan Denkov akan "segera" dikerahkan.

"Ya, saya prihatin" tentang agresi Rusia di Eropa timur, katanya. Kremlin "mencari pemulihan kekuatan Uni Soviet, Kekaisaran Rusia. Dan dalam dua entitas ini, Bulgaria selalu menjadi perhatian utama."
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Rekomendasi
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
Gelar Mimbar Mahasiswa,...
Gelar Mimbar Mahasiswa, BEM Persatuan Indonesia Sampaikan Lima Pernyataan Sikap
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved