Kicauan Triliunan
Sabtu, 08 Agustus 2020 - 06:03 WIB
loading...
A
A
A
?Menurut salah seorang anggota tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewi Malia Prawiradila?, Indonesia memiliki 1.606 jenis burung dan 376 di antaranya jenis endemik. Bahkan, 99% dari taksa burung yang hidup di Indonesia berhasil diternakkan. Murai, cucakrawa, dan jalak suren sudah tidak masuk dalam spesies yang terancam punah karena berhasil diternakkan.
"Ketiga burung kicau tersebut sudah berhasil dilestarikan oleh para penangkar sehingga tidak terancam punah. Memang di habitat aslinya sudah menipis, namun jumlahnya saat ini masih terus bertambah," ujarnya.
Penangkaran berperan penting dalam usaha konservasi burung. Pasalnya, para penangkar burung juga ikut melestarikan dan membudidayakan burung kicau. Ketika para penangkar melakukan perlombaan burung kicau, burung terebut harus berasal dari penangkaran dan bukan dari pengepul atau penjual burung hasil tangkapan dari hutan. (Baca juga: Rusia Diduga Kerahkan Sistem Rudal S-400 ke Libya)
"Burung-burung yang ikut perlombaan itu biasanya dari penangkaran yang memang memiliki silsilah jelas. Ini bisa ditandai dari adanya ring atau close ring di kakinya," ungkap Dewi.
Selain karena suaranya, keunikan jenis burung kicau menjadi daya tarik tersendiri. Belum lagi jika ditekuni hobi mengoleksi burung kicau bisa menjadi sumber penghasilan. Hal ini pun di tegaskan oleh anggota kicaumania sekaligus CEO Radja Company, Prio Sutrisno, bahwa kegiatan perlombaan kicau mampu menopang perekonomian karena dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
"Bukan hanya para penghobi yang diuntungkan, para pembuat pakan, sangkar, vitamin untuk burung pun ikut merasakan keuntungan yang besar dari burung kicau," ucapnya.
Semakin hobi burung berkicau dicintai, akan semakin tinggi tingkat ekonomi masyarakat Indonesia. Bahkan, Kementrian Koperasi dan UKM menyebutkan, dari perdagangan atau uang yang beredar di bisnis burung berkicau mulai dari budi daya, ternak, sangkar, pakan burung, sampai ke obat-obatan bisa mencapai Rp1,7 triliun.
"Ketiga burung kicau tersebut sudah berhasil dilestarikan oleh para penangkar sehingga tidak terancam punah. Memang di habitat aslinya sudah menipis, namun jumlahnya saat ini masih terus bertambah," ujarnya.
Penangkaran berperan penting dalam usaha konservasi burung. Pasalnya, para penangkar burung juga ikut melestarikan dan membudidayakan burung kicau. Ketika para penangkar melakukan perlombaan burung kicau, burung terebut harus berasal dari penangkaran dan bukan dari pengepul atau penjual burung hasil tangkapan dari hutan. (Baca juga: Rusia Diduga Kerahkan Sistem Rudal S-400 ke Libya)
"Burung-burung yang ikut perlombaan itu biasanya dari penangkaran yang memang memiliki silsilah jelas. Ini bisa ditandai dari adanya ring atau close ring di kakinya," ungkap Dewi.
Selain karena suaranya, keunikan jenis burung kicau menjadi daya tarik tersendiri. Belum lagi jika ditekuni hobi mengoleksi burung kicau bisa menjadi sumber penghasilan. Hal ini pun di tegaskan oleh anggota kicaumania sekaligus CEO Radja Company, Prio Sutrisno, bahwa kegiatan perlombaan kicau mampu menopang perekonomian karena dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
"Bukan hanya para penghobi yang diuntungkan, para pembuat pakan, sangkar, vitamin untuk burung pun ikut merasakan keuntungan yang besar dari burung kicau," ucapnya.
Semakin hobi burung berkicau dicintai, akan semakin tinggi tingkat ekonomi masyarakat Indonesia. Bahkan, Kementrian Koperasi dan UKM menyebutkan, dari perdagangan atau uang yang beredar di bisnis burung berkicau mulai dari budi daya, ternak, sangkar, pakan burung, sampai ke obat-obatan bisa mencapai Rp1,7 triliun.
Lihat Juga :