alexametrics

Ingin Miliki Perusahaan Kelas Dunia, Arah Holding BUMN Harus Jelas

loading...
Ingin Miliki Perusahaan Kelas Dunia, Arah Holding BUMN Harus Jelas
Rencana pembentukan holding BUMN bila ingin membuat perusahaan pelat merah bisa menjadi perusahaan kelas dunia, maka menurut DPR tujuannya harus terarah. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Rencana pembentukan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diusung pemerintah disarankan agar dikaji kembali. Hal ini lantaran menurut Anggota Komisi VI DPR RI Martri Agoeng tujuan besar dari pembentukan holding perusahaan pelat merah masih belum jelas.

Meski begitu Ia mengaku sangat mendukung apabila memang Pemerintah berencana ingin membuat BUMN bisa menjadi perusahaan kelas dunia. Hanya saja, intepretasinya harus terarah dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

“Intepretasinya tidak boleh sembarangan dengan langkah korporasi yang sembarangan dan berisiko merugikan negara yang ujungnya berlawanan dengan cita-cita,” kata Martri di Jakarta, Jumat (29/12).

Lebih lanjut Ia mengungkapkan apabila acuannya ingin memiliki perusahaan sekelas Temasek Holding Privates Limited (Temasek) sebagaimana yang pernah digaungkan oleh Presiden Joko Widodo. Maka terang Martri konteksnya harus bisa selaras dengan kondisi Republik Indonesia.



“Apakah ini bentuk holding yang akan dituju? Apakah Temasek cocok untuk dijadikan sebagai platform? Disinilah konteks Indonesia harus dimasukan. Indonesia memiliki keunikan berupa UUD 1945 dengan Pasal 33,” jelas dia.

Ia juga mengkritisi mekanisme inbreng saham yang diterapkan pada pembentukan holding BUMN. Pasalnya mekanisme terbilang unik dan mengesampingkan fungsi DPR. “Terasa begitu memaksakan karena alam eksekusinya tidak mengikuti mekanisme APBN, yang berarti tidak memerlukan persetujuan DPR. Ini membuat terjadinya polemik dengan DPR,” paparnya

Maka dari itu, Martri meminta inisiatif holding BUMN agar dilihat kembali dan dikaji kembali. Road map yang pilih perlu dikomunikasikan dengan baik karena mekanismenya penuh kontroversial.

“Sepertinya kita perlu berhati-hati. Karena ini tentang kekayaan negara dan nasib rakyat yang menjadi taruhan. Cepat bukan berarti ceroboh. Berhati-hati bukan berarti lambat,” tutup dia.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak