Pastikan Keberlanjutan, Perusahaan Tambang Mutlak Terapkan ESG
Sabtu, 27 Januari 2024 - 07:54 WIB
loading...
A
A
A
Kebutuhan perusahaan untuk menerapkan ESG secara baik pun ditegaskan oleh Direktur SDGs Center Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Zuzy Anna, M.Si. Tak hanya lembaga keuangan dan investor global, mitra hingga pembeli produk pun kini lebih memilih perusahaan tambang yang dipastikan telah mengikuti kriteria ESG falam operasinya.
"Lembaga keuangan tidak mau memberikan pinjaman atau modal kepada perusahaan yang mungkin terekspos tidak sesuai dengan standar ESG. Partner juga tidak ingin membeli barang dan jasa dari perusahaan yang tidak menerapkan ESG," tandasnya.
Kecenderungan ini, sambung dia, kini juga memicu munculnya praktik nakal oleh perusahaan. Demi memperoleh pembiayaan atau meyakinkan mitra, ada perusahaan-perusahaan yang kemudian melakukan green washing, atau menyampaikan informasi palsu atau menyesatkan mengenai label ramah lingkungan terkait produknya.
Terkait dengan itu, Zuzy mengatakan bahwa pemerintah perlu lebih tegas mendorong implementasi ESG oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. "Harus ada law enforcement terkait regulasi-regulasi yang telah dibuat. Ini perlu untuk mengakselerasi implementasi ESG oleh korporasi," tegasnya.
Sementara itu, Manager Environmental PT Agincourt Recources (PTAR) Mahmud Subagya mengatakan, pihaknya sejak awal menyadari penuh akan pentingnya menerapkan ESG. Karena itu, tegas dia, ESG menjadi komitmen penuh cucu perusahaan Grup Astra tersebut dalam operasinya.
"Agincourt mengambil enam aspirasi yang difokuskan pada target 2030. Enam target adalah menurunkan emisi GRK sampai 30% pada 2030, manajemen energi yakni 50% bauran EBT di Grup Astra, manajemen air, manajemen limbah pabrik, keberagaman dan inklusivitas karyawan, kesehatan dan keselamatan kerja karyawan," paparnya.
"Lembaga keuangan tidak mau memberikan pinjaman atau modal kepada perusahaan yang mungkin terekspos tidak sesuai dengan standar ESG. Partner juga tidak ingin membeli barang dan jasa dari perusahaan yang tidak menerapkan ESG," tandasnya.
Kecenderungan ini, sambung dia, kini juga memicu munculnya praktik nakal oleh perusahaan. Demi memperoleh pembiayaan atau meyakinkan mitra, ada perusahaan-perusahaan yang kemudian melakukan green washing, atau menyampaikan informasi palsu atau menyesatkan mengenai label ramah lingkungan terkait produknya.
Terkait dengan itu, Zuzy mengatakan bahwa pemerintah perlu lebih tegas mendorong implementasi ESG oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. "Harus ada law enforcement terkait regulasi-regulasi yang telah dibuat. Ini perlu untuk mengakselerasi implementasi ESG oleh korporasi," tegasnya.
Sementara itu, Manager Environmental PT Agincourt Recources (PTAR) Mahmud Subagya mengatakan, pihaknya sejak awal menyadari penuh akan pentingnya menerapkan ESG. Karena itu, tegas dia, ESG menjadi komitmen penuh cucu perusahaan Grup Astra tersebut dalam operasinya.
"Agincourt mengambil enam aspirasi yang difokuskan pada target 2030. Enam target adalah menurunkan emisi GRK sampai 30% pada 2030, manajemen energi yakni 50% bauran EBT di Grup Astra, manajemen air, manajemen limbah pabrik, keberagaman dan inklusivitas karyawan, kesehatan dan keselamatan kerja karyawan," paparnya.
Lihat Juga :