alexametrics

Tak Hanya Ekonomi, KUD Terbaik 2018 Berkontribusi terhadap Sosial Budaya

loading...
Tak Hanya Ekonomi, KUD Terbaik 2018 Berkontribusi terhadap Sosial Budaya
KUD Kota Salak, di Nagari Kurnia Koto Salak, Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya memperoleh penghargaan Koperasi Berprestasi 2018. Sebelumnya pada 2013 mereka juga mendapatkan penghargaan serupa. Foto/Istimewa
A+ A-
DHARMASRAYA - Kabupaten Dharmasraya merupakan wilayah paling ujung Sumatera Barat yang berbatasan dengan Riau dan Jambi. Jarak dari kota Padang (210 km), jika ditempuh jalan darat lewat lintas Sumatera, butuh waktu sekitar 5 jam.

Namun dari kota paling ujung itu, koperasi justru tumbuh pesat dan berkembang. Salah satunya adalah KUD Kota Salak, di Nagari (Desa) Kurnia Koto Salak, Kecamatan Sungai Rumbai, yang memperoleh penghargaan Koperasi Berprestasi 2018. Ini tercatat kedua kalinya, setelah pada 2013 juga mendapatkan penghargaan serupa pada puncak peringatan Harkopnas di NTB.

Dharmasraya yang merupakan hasil pemekaran wilayah Kabupaten Sijunjung, 14 tahun lalu, berkembang sebagai salah satu penghasil kelapa sawit. Penghasil kelapa sawit terbesar adalah di Kecamatan Sungai Rumbai.“Keberhasilan KUD Koto Salak meraih penghargaan koperasi berprestasi tingkat nasional ini, tidak lain adalah berkat perjuangan, kerja sama dan kegigihan anggota dan pengurus dalam bekerja,” kata Ketua KUD Koto Salak, H Moh Yunus di Dharmasraya, Senin 16 Juli 2018.

Yunus mengatakan, KUD Koto Salak awalnya adalah petani-petani kelapa sawit yang tergabung dalam sejumlah kelompok. Karena bekerja di sektor yang sama, maka timbulah keinginan untuk membentuk koperasi, agar bisa meningkatkan bargaining. Juga mendapatkan status Badan Hukum (BH) untuk bisa melakukan berbagai langkah pengembangan usaha.

KUD tersebut berdiri pada 1991 sesuai badan hukum No 2113/BH-XVII. KUD itu berjalan tertatih-tatih dan menjalani masa sulit. “Awalnya kantor KUD kai berada di camp atau mes perkebunan kelapa sawit. Dan secara perlahan KUD koto Salak mulai bangkit menjadi koperasi kelapa sawit yang diperhitungkan di kabupaten Dharmasraya,” katanya.

Lalu, setelah dikeluarkan sertifikat klasifikasi oleh Dinas Koperasi Perekonomian dan Perdagangan Dharmasraya dengan nilai A, KUD ini semakin mantap pada 2004. Bahkan pada 2005, KUD itu meraih penghargaan sebagai koperasi berprestasi dari Pemkab Dharmasraya.

Penghargaan tersebut memacu semangat serta motivasi bagi pengurus dan anggota untuk lebih baik. “Hal tersebut dapat dibuktikan atas pencapaian dalam meraih penghargaan koperasi berprestasi dari Pemkab Dharmasraya dan Pemprov Sumbar pada 2009. Kemudian meraih penghargaan UMKM koperasi berprestasi jenis produsen tahun 2013,” katanya .

Pada tahun yang sama, Diskoperindag Dharmasraya juga mengeluarkan sertifikat klasifikasi dengan nilai A (sangat baik) untuk KUD Koto Salak. Tak berselang beberapa bulan kemudian, KUD Koto Salak juga meraih penghargaan dari Kementerian Koperasi RI dalam kategori KUD berprestasi tingkat nasional. Penghargaan itu diserahkan oleh Presiden RI di Provinsi NTB.

Sementara pada 2015, KUD Koto Salak juga meraih penghargaan dari Dinas Koperindag Dharmasraya sebagai KUD terbaik. Baru-baru ini, Ketua KUD Koto Salak juga menerima penghargaan dalam kegiatan pertemuan nasional sawit Indonesia di gedung Kementerian Keuangan Jakarta.

Perluas Unit Usaha

Memiliki segudang prestasi dalam mengelola koperasi, tak membuat H Moh Yunus merasa puas. Sejak dipercaya oleh anggota untuk memimpin koperasi tersebut dan sampai saat ini, ia terus berinovasi .

Unit usaha yang digeluti juga semakin luas. Jika awalnya hanya koperasi kelapa sawit, kini KUD Koto Solok juga sudah memiliki unit simpan pinjam (USP), Waserda (Warung Serba Ada), transportasi, sampai unit usaha alat-alat berat.

“Unit usah alat berat ini kami buka karena banyak permintaan dari anggota agar jalan-jalan sekitar perkebunan diperbaiki, sehingga transportasi pengangkutan TBS (tandan buah segar) lebih gampang,” paparnya.

KUD ini mengelola lahan seluas 600 hektare, di mana tiap bulannya mampu menghasilkan panen kelapa sawit dalam bentuk TBS. Harganya pun cenderung naik turun, namun dari perhitungan kasar, tiap kavling (2 hektare) mampu menghasilkan Rp 3-4 juta. Berarti dalam sebulan perputaran uang di KUD ini berkisar Rp2,5 sampai Rp 3 miliar.

Menurut Yunus, awalnya lahan yang dikelola KUD Koto Salak seluas 750 hektare, namun karena di kabupaten Dharmasraya ini adalah kota transmigran, maka KUD memberikan sebagian lahannya untuk dijadikan lahan transmigrasi.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak