alexametrics

Kemendag Dorong Petani Beralih ke Organik untuk Peluang Pasar Ekspor

loading...
Kemendag Dorong Petani Beralih ke Organik untuk Peluang Pasar Ekspor
Gedung Kementerian Perdagangan. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengajak petani dan pelaku usaha beralih untuk memproduksi produk organik. Ajakan ini dimulai di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, lewat forum diskusi dengan tema 'Pengembangan Ekspor Produk Organik Indonesia', pada Kamis (11/10) lalu.

Forum tersebut digelar Kemendag untuk menyebarluaskan informasi usaha produk organik, memfasilitasi dialog cara membuka peluang dalam bisnis organik dan menunjukan besarnya potensi pasar ekspor untuk produk organik.

"Peluang pasar produk organik Indonesia sangat besar. Permintaan produk organik dunia semakin meningkat seiring kesadaran masyarakat dunia terhadap isu kesehatan," kata Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Marolop Nainggolan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Karena tujuan akhirnya adalah mempersiapkan produk organik Indonesia agar siap ekspor, forum ini menyarankan para pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan standar ekspor saat beralih ke organik.

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut adalah meningkatkan pemahaman dalam bertani secara organik sehingga produk pertanian memiliki nilai tambah yang menarik pasar produk organik.

Kabupaten Karo memiliki potensi pertanian yang sangat besar, sekitar 75% penduduk menggantungkan hidup dari bertani. Melihat potensi ini, Kabupaten Karo dapat dijadikan sentra pertanian organik di Sumatra Utara.

"Pertambahan luas lahan pertanian di Kabupaten Karo ini semakin meningkat tiap tahunnya," jelasnya.

Hingga Desember 2017, sekitar 7.000 hektare lahan untuk pertanian. Sumber daya alam yang dimiliki pun tidak kalah hebatnya dan ini merupakan keunggulan komparatif yang dimiliki Kabupaten Karo. Di masa depan, bisa kembangkan pertanian organik.

Terkait bertani secara organik, pada dasarnya hal ini telah diterapkan oleh beberapa petani di Kabupaten Karo. Namun metode ini belum populer.

Saat ini kendala dan tantangan untuk mengembangkan pertanian organik adalah masih terbatasnya akses informasi dan teknonogi bagi petani, akses pasar, ketiadaan HS Code untuk produk organik, pengenaan tarif yang menurunkan daya saing di pasar global dan tingginya biaya sertifikasi.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak