Dampak Ngeri Perang Iran-Israel Bagi Perekonomian Indonesia
Minggu, 21 April 2024 - 09:14 WIB
loading...
A
A
A
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menyatakan dampak ekonomi baru akan terlihat jika perang Iran dengan Israel terus berlanjut. Perekonomian Indonesia akan terkena dampak kenaikan harga minyak mentah global.
Dia memproyeksikan harga minyak bisa mencapai USD100 barel apabila tensi kedua negara terus memanas. Harga minyak naik bukan karena pasokannya berkurang akibat perang tapi jalur perdagangan terganggu.
"Kalau kita lihat dampak secara global harga minyak dunia akan di atas USD100 per barel," kata dia dikutip dari BBC, Minggu (21/4/2024).
Indonesia sebagai negara importir minyak akan terkena dampak. Saat harga minyak meningkat maka harga BBM juga akan naik kemudian diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya. "Apabila pemerintah mempertahankan harga BBM di level sekarang maka beban subsidi BBM akan besar sekali," jelasnya.
Dia memproyeksikan penambahan anggaran subsidi mencapai Rp50-Rp110 triliun. Dengan proyeksi ini, pengeluaran pemerintah akan lebih besar ketimbang pendapatan dari pajak atau terjadi defisit fiskal. "Beban fiskal APBN 2024 yang sebelumnya 2,3%-2,4%, defisit fiskalnya bisa jadi 2,8 %-2,9%," kata dia.
Fithra waswas kondisi ini akan membuat investor kabur karena mereka tidak yakin Indonesia dapat menekan defisit fiskal pada 2025. Akibatnya, nilai rupiah akan semakin turun. Saat ini saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah tembus di atas Rp16.000 per dolar AS. Hal senada dikatakan Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira. Dampak perang tersebut akan megerek harga BBM, LPG hingga tarif listrik untuk mengimbangi biaya subsidi.
Dia memproyeksikan harga minyak bisa mencapai USD100 barel apabila tensi kedua negara terus memanas. Harga minyak naik bukan karena pasokannya berkurang akibat perang tapi jalur perdagangan terganggu.
"Kalau kita lihat dampak secara global harga minyak dunia akan di atas USD100 per barel," kata dia dikutip dari BBC, Minggu (21/4/2024).
Indonesia sebagai negara importir minyak akan terkena dampak. Saat harga minyak meningkat maka harga BBM juga akan naik kemudian diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya. "Apabila pemerintah mempertahankan harga BBM di level sekarang maka beban subsidi BBM akan besar sekali," jelasnya.
Dia memproyeksikan penambahan anggaran subsidi mencapai Rp50-Rp110 triliun. Dengan proyeksi ini, pengeluaran pemerintah akan lebih besar ketimbang pendapatan dari pajak atau terjadi defisit fiskal. "Beban fiskal APBN 2024 yang sebelumnya 2,3%-2,4%, defisit fiskalnya bisa jadi 2,8 %-2,9%," kata dia.
Fithra waswas kondisi ini akan membuat investor kabur karena mereka tidak yakin Indonesia dapat menekan defisit fiskal pada 2025. Akibatnya, nilai rupiah akan semakin turun. Saat ini saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah tembus di atas Rp16.000 per dolar AS. Hal senada dikatakan Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira. Dampak perang tersebut akan megerek harga BBM, LPG hingga tarif listrik untuk mengimbangi biaya subsidi.
Lihat Juga :