Dukung Rusia di Perang Ukraina, Selusin Lebih Perusahaan China Dihantam Sanksi AS

Senin, 13 Mei 2024 - 06:13 WIB
loading...
Dukung Rusia di Perang...
Amerika Serikat atau AS memberlakukan sanksi terhadap lebih dari selusin perusahaan China dan Hong Kong, terkait dukungan terhadap perang Rusia di Ukraina. Foto/Dok
A A A
BEIJING - Amerika Serikat atau AS memberlakukan sanksi terhadap lebih dari selusin perusahaan China dan Hong Kong, terkait dukungan terhadap perang Rusia di Ukraina. Hal ini sebagai bagian dari hampir 300 sanksi baru Amerika yang diumumkan pada awal Mei, lalu.

Baca Juga: Amerika Geram dengan Polah Perusahaan-perusahaan China

Langkah ini diambil setelah adanya peringatan berulang kali dari pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Keuangan Janet Yellen dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken, kepada pejabat tinggi China bahwa mereka harus menindak penyediaan barang-barang China ke Rusia. Pasalnya AS mengklaim produk itu digunakan untuk memperkuat militer Rusia dalam perang melawan Ukraina.

"Hampir 300 target yang disetujui oleh Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri termasuk sanksi terhadap puluhan aktor yang telah memungkinkan Rusia memperoleh teknologi dan peralatan yang sangat dibutuhkan dari luar negeri," kata Departemen Keuangan dalam keterangan resminya.

Baca Juga: Jalin Hubungan dengan Rusia, Perusahaan China Akan Masuk Daftar Hitam Uni Eropa

Sanksi AS juga mencapai target di Rusia, serta Azerbaijan, Belgia, Slovakia, Turki hingga Uni Emirat Arab. Sanksi tersebut bertujuan untuk menindak upaya penghindaran sanksi dan dukungan terhadap basis industri militer Rusia dan program senjata biologi dan kimianya.

Departemen Keuangan AS juga menargetkan mereka yang terlibat dalam menyediakan bahan prekursor ke Rusia yang digunakan dalam bahan peledak.

Menurut lembar fakta Departemen Luar Negeri, sanksinya menghantam "entitas China yang bertanggung jawab untuk mengembangkan, dan memasok peralatan kedirgantaraan, manufaktur, dan teknologi penggunaan ganda kepada entitas yang berbasis di Rusia."

"Secara khusus, penunjukan ini menargetkan produsen dan eksportir barang-barang penting bagi basis industri pertahanan Rusia. Beberapa di antaranya telah mengirim barang ke entitas yang ditunjuk AS di Rusia," kata lembar fakta itu.

Pemerintahan Biden terlihat semakin membunyikan alarm terhadap dukungan China untuk basis industri pertahanan Rusia - dukungan yang menurut AS telah memungkinkan Moskow untuk melanjutkan perangnya melawan Ukraina.

Selain itu ketika Rusia mulai membangun kembali kemampuan pertahanannya, AS berusaha menggalang sekutu untuk menekan Beijing – melalui cara diplomatik atau, jika itu gagal lewat beragam sanksi –. Semua itu dilakukan agar China berhenti memberikan dukungan, dan mereka mencari untuk melihat apakah tekanan itu bakal berdampak.

"Rusia tidak lagi berada di belakangnya," kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri sebelum perjalanan Blinken ke China.

"Mereka melonjak. Mereka memiliki aset besar, mereka dibentuk kembali. Mereka yang menimbulkan ancaman tidak hanya untuk Ukraina tetapi untuk wilayah yang lebih luas."

Diplomat top AS mengatakan setelah satu hari pertemuan di Beijing bahwa "ketika dukungan China diberikan untuk basis industri pertahanan Rusia, yang bisa saya katakan adalah sangat jelas tentang kekhawatiran kami, tetapi kita harus melihat efek apa yang mengikuti dari tindakan itu,"
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Ekonomi Rusia Menyusut...
Ekonomi Rusia Menyusut tapi Rakyatnya Makin Kaya, Moskow Kebal Sanksi Barat?
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Rekomendasi
5 Fakta Menarik Timnas...
5 Fakta Menarik Timnas Jerman Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Rano Karno Sebut Jakarta...
Rano Karno Sebut Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia Kalahkan Washington DC
Berita Terkini
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Infografis
AS Mulai Bagikan Info...
AS Mulai Bagikan Info Intel Ruang Angkasa Sensitif China-Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved